Friday, July 25, 2008

Cita-cita

Saya sedang bersantai menonton TV di tempat tidur ketika Reyhan masuk membawa buku Pe-ernya dan selembar kertas. "Ma, ini ada biodata murid, kata bu guru diisi terus dikumpulkan," Dia menyerahkan lembar kertas itu pada saya. Lalu sibuk mengerjakan pe-er. Saya mengambil pulpen dan mulai mengisi pertanyaan-pertanyaan di kertas itu. Seingat saya, tahun lalu sudah pernah mengisinya. Tapi mungkin hal ini selalu dilakukan setiap tahun untuk pendataan ulang.

Saya jawab pertanyaan-pertanyaan itu berurut dari atas. Nama, alamat, nomor telepon. Hobi anak. Hhhmmm.... kalo nggak salah main dan nonton film nih (gak jauh beda lah sama mamanya. Kekekeke....). Pertanyaan berikut, pelajaran favorit. Saya berhenti menulis dan melihat Reyhan, "Pelajaran favorit kamu apa, Han?" Reyhan berhenti mengerjakan pe-er, berpikir sebentar, dan menjawab mantap, "Matematika." Oke. Saya tulis matematika, sambil bersorak dalam hati. Yippiiee... Gak percuma dari umur 2 tahun dinding kamar ditempeli poster angka dan operasi matematika.

Pertanyaan berikutnya, cita-cita. Saya berhenti dan bertanya lagi. "Cita-cita Reyhan apa?" Kali ini agak lama dia diam sebelum menjawab,"Pilot...." (nadanya tidak setegas tadi). "Pilot? Kalau pesawatnya jatuh gimana?" Timpal saya spontan. Reyhan sedikit tertegun. Lalu dia bilang, "Ya udah, terserah mama deh." Saya lalu beri opsi, "Gimana kalo ahli komputer? Kayak bapak gitu."
"He-eh", jawab Reyhan sambil lalu, sambil menekuni pe-ernya lagi. Saya pun melanjutkan mengisi formulir itu.

Keesokan hari, baru saya merasa sedikit terusik dengan percakapan kami. Bukan, bukan oleh jawaban Reyhan. Tapi oleh perkataan saya sendiri. Saya ingat bagaimana waktu kecil dulu, setiap kali ditanya apa cita-cita saya, saya selalu bilang ingin jadi arsitek. Tapi lalu ibu saya berusaha meyakinkan saya untuk memilih bidang kedokteran dan jadi dokter. Walau pada awalnya setuju, semakin saya besar semakin keras saya menolak keinginan ibu saya untuk jadi dokter. Karena saya yakin sekali saya takkan mampu jadi dokter yang harus menghafal sekian banyak bahan dan hafalan.

Sekarang, setelah saya sendiri jadi seorang ibu, apakah saya juga melakukan tindakan yang sama dengan ibu saya dulu? Memaksakan keinginan pada anak? Saya dan suami sudah seringkali membahas masa depan anak-anak, dan kami cukup yakin bahwa dengan pengalaman hidup yang sudah dijalani, rasanya kami bisa mengarahkan anak-anak untuk bisa sukses di masa depannya. Tapi apa itu tindakan yang benar atau tidak? I mean, kalau Reyhan ingin jadi pilot lalu saya 'belokkan' agar memilih jadi ahli komputer, tindakan saya itu benar atau tidak, ya? Terus terang, sebagai ibunya, rasanya saya tidak sanggup membayangkan dia jadi pilot, yang sebagian besar waktunya habis di udara, sementara tiap kali dia terbang saya merasa dag dig dug mencemaskan keselamatannya. Di pihak lain, saya tak yakin dia punya alasan kuat untuk menetapkan pilihan itu, dengan kata lain, mungkin opsi 'pilot' keluar karena masih minimnya pengetahuan dia tentang lapangan pekerjaan yang tersedia di kehidupan. Sama halnya dengan saya yang memilih jadi arsitektur dulu, karena saya tak tahu bahwa jadi seorang diplomat ternyata lebih cocok dan menyenangkan buat saya.

Tuesday, July 22, 2008

Balada si Pekerja

3 minggu bergelut dengan lalu lintas Jakarta waktu pagi dan sore hari, cukup banyak hal-hal yang sudah saya lihat dan rasakan. Sebenarnya bukan hal baru, tapi karena sudah cukup lama saya tidak berkeliaran di jalan-jalan Jakarta pada waktu jam-jam sibuk, maka saya seperti terbangun dari tidur panjang.


Busway

Dulu, waktu awal pembuatan busway, saya termasuk golongan orang yang kerap menyumpah serapahi kemacetan yang diakibatkan pekerjaan konstruksi itu. Saya pesimis sistem transportasi baru ini bisa mengurangi kemacetan jalan raya Jakarta. Tapi sekarang, sebagai salah satu pengguna regular, dengan rendah hati saya akui saya sudah salah mengira. Ternyata busway sangat membantu terutama bagi karyawan rendahan seperti saya ini, yang butuh cepat sampai di tujuan, ingin kenyamanan tapi tidak sanggup mengeluarkan uang banyak :D. Yang lebih menyenangkan lagi, mayoritas pengguna busway adalah karyawan yang akan berangkat ke dan pulang dari tempat kerja. Jadi notabene tidak ada bebauan aneh yang biasanya suka tercium kalau kita naik sarana transportasi umum lain seperti kereta api atau bis kota. Selain itu, jalur khususnya juga (agak) mempercepat perjalanan, jadi walaupun jarak yang ditempuh agak jauh, tapi masih bisa diperkirakan waktu tempuh yang akan dijalani sehingga tidak terlalu melelahkan walau harus berdiri sepanjang perjalanan. Berbeda dengan bis kota yang seringkali berjalan dengan kecepatan hanya 20 km/jam, berhenti seenaknya di sembarang tempat, sampai nge-tem semaunya (ngerti kan, apa itu nge-tem? Susah juga mau pakai istilah lain. Bahasa Inggris nge-tem itu apa ya? Hehehe…

Satu hal lagi yang membuat perjalanan naik busway makin menyenangkan. Sebagian (belum semua, sih) penumpangnya adalah orang-orang yang mengerti tata krama, dan mau memberikan tempat duduknya kalau ada orangtua, orang hamil, atau bahkan perempuan yang berdiri. Walau baru sebagian, tapi sudah cukup menyejukkan mata dan hati, terlebih kalau ingat bagaimana dulu saya yang ketika hamil 8 bulan dan terpaksa naik bis kota sama sekali tidak mendapat tawaran tempat duduk hingga harus berdiri sepanjang perjalanan padahal jalan macet dan udara sangat panas.

Makan siang

Dulu waktu di C’nS, rekan kerja sekantor lumayan banyak dan sebagian besar perempuan. Jadi kalau jam makan siang tiba, berbondong-bondonglah kami keluar ke kantin baseman atau (kalau mau irit) depan tempat parkir. Kalau udara sedang panas dan malas keluar, kami ramai-ramai memesan pada Herman the OB untuk dibelikan makanan, lalu makan bersama-sama diruang rapat. Acara makan siang itu cukup menyenangkan, saat-saat di mana personel semua bagian berkumpul dan bercanda tanpa ada sekat jabatan. Bahkan seringkali ibu direktur juga ikut makan dan bersenda gurau bersama kami.

Sekarang, di kantor baru ini, kami hanya bertiga (ditambah satu direktur eksekutif). Posisi AHA Centre sebagai divisi dari ASEAN seakan menciptakan tembok pemisah antara AHA Centre dan BAKORNAS PB yang gedungnya kami tempati ini. Sulit rasanya untuk menjalin keakraban dengan para karyawan BAKORNAS, walau kami sudah berusaha memperkenalkan diri. Saya awalnya kira itu bisa dilakukan ketika jam makan siang seperti di C’nS dulu. Tapi saya keliru, ternyata mereka mendapat jatah makan siang. Di minggu2 pertama, kami bertiga harus mencari-cari sendiri lokasi makan terdekat dengan kantor, karena tak satupun di antara kami yang mengenal daerah Harmoni ini. Akhirnya kami menemukan juga sebuah kantin sederhana tapi cukup baik tak jauh dari kantor. Di luar dugaan, ternyata harga makanan di sini cukup murah. Sepiring nasi dengan dua macam lauk (sayur dan lauk) hanya berharga 7500 rupiah saja! Bayangkan dengan makanan di kantor suami yang harganya tak kurang dari 10 ribu untuk nasi dan satu macam lauk. Rasanya pun tak kalah, cukup enak untuk skala kantin. Benar-benar pelipur lara.

Tapi selama ini, boss yang selalu dapat jatah kotak makan siang dari BAKORNAS rupanya tak enak hati melihat hanya kami bertiga yang harus membeli makanan dari luar. Beliau terus melobi pihak BAKORNAS dan di minggu ke-3, akhirnya kami juga mendapat jatah makan siang dari kantor. Alhamdulillah, tambah irit lagi deh jadinya. Dan tak perlu susah-susah jalan keluar untuk membeli makan siang (karena di sini tak ada OB yang bisa dimintai bantuan membelikan makanan).

The Policy Maker

Waktu pertama masuk C’nS dulu, namanya belum jadi C’nS, tapi masih sebagai majalah Contact (dan ternyata sampai sekarang pun nama ini masih tetap bergaung. Itulah hebatnya generasi jaman dulu, bisa menciptakan sesuatu yang terus dikenang orang walau bendanya sendiri sudah tidak beredar di pasaran). Hampir setahun di sana, majalah Contact berganti nama jadi majalah C’nS dengan konsep, isi dan wajah yang sama sekali baru juga. Sebagai salah satu editor waktu itu, saya turut membidani kelahiran C’nS itu. Saya ikut berdebat dengan teman-teman editor dan petinggi di PP LIA mengenai konsep majalah baru yang akan diluncurkan itu. Kami memilah-milah jenis artikel yang akan ditampilkan dan membahas macam tampilan yang akan kami tunjukkan. Pemilihan nama majalah juga dipikirkan masak-masak sebelum akhirnya direktur memutuskan memilih nama C’nS yang merupakan kepanjangan dari Cool ‘n Smart. In short, saya merasa sangat terlibat dalam semua proses peluncuran majalah itu.

Sekarang, saya seakan mengulangi sebagian besar proses itu. AHA Centre yang merupakan singkatan dari ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance in disaster management merupakan satu divisi baru yang untuk sementara ini berada di bawah divisi Disaster Management dari ASEAN. Sebagai divisi baru, boleh dibilang semua ketentuan, tugas dan tanggung jawab kami masih kabur, belum ditentukan dengan pasti. Akhirnya, tugas kamilah untuk menerjemahkan ASEAN Agreement (persetujuan Negara-negara anggota ASEAN) dan SASOP (Standard Arrangements dan Standard Operating Procedures) ke dalam sebuah Term of Reference atau juklak kerja kami. Di satu pihak, rasanya melelahkan juga karena kami harus melakukan semuanya sendiri (termasuk set up kantor dan memilah dokumen). Di pihak lain, saya senang juga karena ini berarti saya benar-benar belajar dari nol mengenai semua hal dalam AHA centre ini. Maklum, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja saya jauh sekali dari pekerjaan saya sekarang ini sehingga amat sangat banyak hal yang tidak saya mengerti. Terlebih, pekerjaan saya kali ini erat sekali kaitannya dengan birokrasi, satu hal yang sebelumnya saya agak-agak ‘alergi’. Ini semua memacu saya untuk terus belajar dan belajar, agar bisa menjawab semua tantangan yang muncul di hadapan saya. Tapi sebagaimana dulu saya optimis dalam mendalami pekerjaan sebagai jurnalis, sekarang juga saya optimis bisa menguasai, atau setidaknya memahami, sekelumit tentang disaster management ini. Karena, suka atau tidak, negara kita termasuk negara yang memiliki resiko cukup tinggi mengalami bencana berdasarkan letak geografisnya. Ini sudah terbukti dengan rangkaian bencana yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Jadi memang di masa depan nanti, akan sangat dibutuhkan banyak tenaga-tenaga ahli dalam bidang penanganan bencana. Dan itulah yang sekarang jadi tujuan saya (mungkin tidak akan sampai ke taraf ahli, tapi setidaknya mengerti mengenai permasalahan ini).

Tak terasa, sudah lumayan banyak juga saya menulis. Sudah dulu ah, lain kali disambung lagi yaaa…. Selamat bekerja :D

Friday, July 11, 2008

The Reason

Two of my best friends called. One of them was my housemate in Bandung, and the other was my High School friend. Both of them started the conversation with a question: "So you've started working again?" in a surprise tone. I explained the situation and the background reason to my ex-housemate, and then repeated it within an hour to the latter caller :D. Basically they could understand my explanation, but the conversation got me thinking. Did I do something wrong in deciding to work again?

I should mention also that both of my friends were mothers. The first one has just resigned from her office, but she informed me that her office had asked her to work for them at home (because her kind of work was the one that could be finished at home). Good for you, mate! The second one has just gave birth to her third child and was thinking about retiring. That's why she called me, to asked about what it's like to be a full time mother. And I thought, maybe that's why their tone felt like an accusation for me. Maybe in some way, they felt betrayed by me. When they're ready to retired, I just started to work again.

Well, honestly, the decision to start working again didn't come easily. My first consideration was my children. Would it be OK if I left them at home? Would they mind if the mother who were always by their side gone for most of the days? Would they miss me? Would they have difficulties in adjusting to the new situation? Could I be strong enough to leave them everyday and work in the office, far away from them? Would I make the biggest mistake of my life?

During the selection process (which took quite a long time), I discussed it over and over again with the light of my life, my husband. I told him about those fears, and I asked him about his feeling towards me working in the office again. His replies assured me. He said, our situation now was a lot better than before, when I had to leave Reyhan to go to work at the office everyday. Back then, our rented house was not satisfying, we were far from my parents' house so it's quite difficult for them to check on Reyhan everytime, and we didn't have a reliable nanny for our child. But now, we lived in our own house in a relatively good neighborhood, it's not far from my parents' house, we had a reliable nanny who love our children sincerely, and Adek Izza was big enough to have her own activities (in other words, to start going to school even though it's only an irregular school).

His answers reminded me of my conversation with my neighbor in Japan, Mayumi. Once, she said that her children were trully hers for only three years. Why? I asked. Well, after that, they started going to school, have activities of their own and have a world of their own. More oever, the first three years of a child's life was the crucial stage of his/her life when the brain cell absorb most of the fundamental information in one's life. So I enjoyed that first 3 years immensely, she added. She also said that once all of her 3 children went to school, she would start to work. But only part time, she said. So that, when they got home, I'd be home already to welcome them. A great thinking, I said.

Looking back to those conversation and my situation now, I could say that my timing was right. Now that my babies were ready to spread their wings and explore the world, I should spare some time for myself. Working in ASEAN has become almost an obsession for me. No wonder, because I have dreamt about it since I was in high school. And now, through some unbelievable strings of events, Allah gave me an opportunity to fulfill that dream. Should I let that opportunity pass, just like that? I don't think so. That wasn't me. Especially to think that there were so many people who would gladly step in my shoe.

After a week of working here, I thought my children had no difficulties in adapting to the new situation. Moreover, now that I have no deadlines, I could give them my full attention once I got home. I never could do this before, since I have to finish the translation in time, although it meant taking break only for praying and bathing. I even ate in front of my computer sometimes! Back then, it's like my body was home but I wasn't there. I got irritated easily, especially when something interrupted my work. Now, I could play with my babies and watch their movies with them. I could teach Reyhan to read Al-qur'an and teach alphabet to Adek. In short, we enjoyed our leisure times a lot more than before.

I wasn't about to defend myself. I still think that above all, a mother should stay at home with her children. I just tried to shed some light on the reason why I decided to work in the office again. I just hoped I did make a right decision on it and would never regret it.

Thursday, July 03, 2008

Ngantor lagi

Kaget kan? Sama, aku juga masih terlongo longo kok. Bangun dan berangkat pagi lagi, pake blazer lagi, kerja di kantor lagi.

Kantor gres-ku ini namanya AHA Centre. Asean Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management. Panjang kali, kan? So, mending sebut aja AHA centre. Ingat dulu pernah ada posting tentang I have a dream? Well, this is it. To work in ASEAN. Norak gak sih? Mungkin ada yang bilang, segitu aja mimpinya. Biar deh, dibilang begitu. Awalnya sih karena setiap hari pulang sekolah selalu ngelewatin sekretariat ASEAN. Trus, aku selalu ngebatin, kayak apa ya rasanya kerja di ASEAN? Asik kayaknya. Bisa bertemu orang-orang dari negara lain (setidaknya dari Asia Tenggara) dan bisa jalan-jalan ke negara2 lain (ketauan deh, maunya apa).

Setelah kuliah dan nyelonong masuk Fisika, kayaknya impian itu makin jauh aja. Tapi setelah melalui berbagai profesi, mulai dari geoelectric field engineer, english teacher, editor, managing editor, chef dan freelance translator, akhirnya bisa juga aku masuk ke ASEAN.

So, here I am. In a brand new office, literally. Karena divisi AHAC ini baru, jadi kantornya juga baru diset-up. Semua komputer dkk masih dalam kardus. Meja masih mulus dan berdebu. Ya sud, hari pertama dihabiskan untuk beres-beres ruangan (so what's the use of wearing a formal suit, I ask you?). Tau cuma bakal beres2, mending pake kemeja n celana jeans deeehhhh...

Dah ah, mo pulang dulu. Dah cape beres2, dah sore. Time to go home. Ta ta....

Saturday, June 07, 2008

Playing with Buttercream contest

Pada suatu hari, tiba-tiba ada tiupan terompet menandakan adanya pengumuman penting (emangnya taon baruan, yak, pake niup terompet? Hehehe...). Yak, yang bagian itu emang rekayasa. Tapi pengumumannya nggak. Ceritanya nih, salah seorang anggota milis kuliner yg aku ikutin ngadain kontes kecil2an. Temanya gak jauh dari per-kuehan, lah. Judulnya playing with buttercream. Trus si jeng cantik itu dengan baik hati menyediakan hadiah utama, sambil mengundang rekan2 lain buat menyumbang hadiah. Jadi aja, yang tadinya cuma ada satu hadiah, lama-lama membengkak dan akhirnya jadi ada 5 hadiah! Hebring yak? Semoga kebaikan para pemberi hadiah itu dibalas oleh Allah SWT dan rejekinya tambah lancar. Amin. Hehehe...

Trus, Ully tea, paling gak bisa ngelewatin tantangan, dooong... Jadilah daku berpikir, kira2 apa yang mau dijagoin, yak? Bikin bunga, biasa ah. Terus apa? Mikir punya mikir, trus keinget sama salah satu 'masterpiece'ku. Dinosaurus cake. Kayaknya boleh juga tuh dicalonin, karena luarnya emang full dilapis buttercream dan I'm sure selama ini belom pernah ada yang bikin model kayak gitu juga. Ya deh, itu aja. Jadilah aku kirim email ke Anne utk daftar kontes ini secara resmi sekaligus ngasih tahu link-nya.

Tapi, waktu pengumuman round-up dikeluarin, lho, mana Dino-ku??? Ternyata emailnya nyasar, sodara-sodara. Tapi jeng Anne emang penuh cinta deh (sesuai nama blognya). Dia masih kasih kesempatan aku kirim lagi dan dimasukin sbg peserta juga. Jadilah si Dino peserta paling buncit. Makasih banyak ya Ann.

Seneng aja ngeliat hasil karyaku berdampingan dengan entry peserta-peserta lain yang kueren-kueren pisan. Gak terlalu malu-maluin, kok. Walaupun itu karya jadul dan waktu ngebikinnya itu ilmuku belum seperti sekarang (duileee... emang sekarang udah secangih apa seeehhh? Malu deh...). Nah, buat yang mau liat kayak apa entry peserta lain, silahkan deh meluncur ke sana. Daaannn... don't forget to vote for me ya. Makaciiihhh

Wednesday, May 28, 2008

Berkebun

Teman saya ini menulis tentang trik untuk menyiasati kenaikan harga BBM dan harga-harga. Saya sekarang ingin sedikit menambahi tulisannya. Selain cara-cara yang diterapkan Gina, saya juga punya ide lain. Sebenarnya sederhana saja, yaitu tanamlah tanaman yang bisa kita nikmati hasilnya, seperti tanaman buah dan sayuran. Ini tercetus waktu di jepang dulu, ketika saya tidak bisa menemukan cabai merah di supermarket (ternyata orang jepang gak suka pedas. Saya baru tahu waktu itu…). Lalu, iseng-iseng saya kumpulkan biji cabai merah yang saya bawa dari indonesia dan saya tanam dalam pot kecil karena apartemen kami di lantai dua, gak punya pekarangan. Eh, ternyata tumbuh (kebetulan waktu itu musim semi, jadi udaranya mirip2 sama di indonesia). Dari sana, saya jadi berangan-angan kalau nanti punya rumah dan ada halamannya, saya akan tanam tanaman seperti itu, setidaknya pohon cabai deh.

Jadilah di rumah yang sekarang kami tempati saya sibuk menggali-gali dan memberi pupuk biji-bijian itu. Saya tanam biji cabai, rambutan rapeah (rapiah? Apa sih namanya, yang kecil-kecil tapi manis itu lho), alpukat (kalau ini udah agak tinggi karena ditanam di rumah kontrakan dulu), lengkeng (ini beli pohon bibit, jadi sekarang udah lumayan tinggi), nanas, durian (walau belum keliatan tunas sama sekali), dan jeruk nipis (yang ini idem, tunasnya saja belum nongol). Lalu setiap pagi dan sore disirami. Kalau saya tidak sempat, ya asisten yang mewakili. Mudah kok menanam tanaman itu, terutama cabai. Baru sebentar ditanam, sudah muncul tunas2 pohonnya.

Komentar ibu saya yang melihat saya berjibaku mengurusi tanaman dan rumput (iya. Rumput juga saya yang tanam sendiri) begini: (mind you, beliau tidak bicara langsung sama saya tapi saya tak sengaja dengar obrolannya dengan anak saya) Mama kamu itu emang aneh. Dulu nenek susaaaaahhhh banget ngajak dia ikut ngurusin tanaman. Eeeh… sekarang malah getol sendiri nanam macam2. Saya jawab saja sambil nyeletuk, beda dong bu. Dulu kan di rumah ibu. Kalo sekarang kan rumah sendiri. Yeeee…. Kata ibu saya bete (ketakjuban itu juga berkali2 diungkap ibu saya kalau melihat kue2 saya, meaning, dulu mau diajari masak sampai harus diuber-uber. Sekarang malah jadi tukang kue. Hehehe…)

Dan, inilah hasilnya. Awalnya sempat kecewa, karena kok yang ditanam biji cabai merah besar, tapi cabainya tidak sampai jadi merah, masih hijau, sudah layu dan gugur. Lalu, setelah beberapa hari tidak keluar rumah karena banyak kerjaan, tiba-tiba waktu sore-sore iseng lihat-lihat tanaman, eeh… ada 3 buah cabai yang sudah berwarna merah. Waaahhh senangnya. They’re the most beautiful cabais I’ve ever seen (duilee… segitunya). Sayangnya saya lihat sebagian daunnya dimakan hama, entah semut, entah belalang. Sebenarnya ada cara buat mengusir hama itu, yaitu disemprot air rebusan tembakau. Dulu sudah pernah saya lakukan dan memang berhasil. Tapi belakangan ini memang lupa untuk diulang.

Jadi semangat nih untuk merawat tanaman yang lain. In the future, saya ingin coba juga menanam sayur-sayuran seperti sawi atau bokcoy dalam pot. Saya pernah membaca tentang seorang pengusaha sayur mayur yang menanam sayurannya dalam pot dan hasilnya tidak kalah dengan yang ditanam di tanah. Saya mau tanam sedikit saja, paling tidak cukup buat dikonsumsi sendiri deh. Lumayan jadi menghemat kan, gak usah beli lagi, tinggal petik di pekarangan? (Kalau mau lebih ekstrim, bisa juga kali pelihara ayam sendiri, buat kolam ikan sendiri, pelihara kambing/sapi sendiri? Hahahaha….).

PS: nasib pohon cabai saya di jepang tidak sebagus yang di sini. Waktu tingginya sekitar 15 cm, oleh Reyhan yang waktu itu baru 3,5 tahun potnya diterjunkan dari teras apato. *Sigh.

Thursday, May 22, 2008

Ketika dia tidur


Saya senang mengamati orang yang sedang tidur. Menurut saya, di waktu itulah kita bisa melihat seseorang apa adanya. Tanpa pretensi. Tanpa polesan. Hingga semua keletihan dan kedamaian tercermin di wajahnya. Terlebih kalau yang tidur adalah anak-anak. Kepolosannya akan tampak jelas dan mengundang belas asih.

Beberapa hari yang lalu, saya lihat salah seorang keponakan saya tidur pulas. Untuk selamanya. Setelah sakit mendadak beberapa jam, tubuh kecilnya yang belum genap berumur 9 bulan tak kuasa menahan derita dan akhirnya menyerah. Kembali kepada sang Khalik. Ketika kami melihatnya, dia benar-benar seperti sedang tidur lelap. He looked just like an angel. Wajahnya yang lucu, pipinya yang bulat dan menggemaskan. Sekilas tak terlihat bahwa hanya jasad tak bernyawa yang terbaring di sana. Hanya bibirnya yang biru yang menjadi pertanda. Di sisinya, sang bunda terisak, menyesakkan dada setiap orang. Kami yang ingin menghibur akhirnya juga tak kuasa menahan haru dan hanya bisa memeluknya erat. Keharuan semakin dalam ketika melihat ke-3 kakaknya yang juga masih kecil-kecil tapi sudah bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Bahwa dedek bayi mereka tak akan pernah bangun lagi dari tidurnya.

Saya pernah kehilangan seorang adik, dulu, waktu masih kecil. Walau ketika itu baru 13 tahun, tapi seluruh rangkaian kejadian itu masih sangat segar dalam ingatan, seakan baru terjadi kemarin. Adik saya meninggal ketika dia sedang mengikuti acara sebuah organisasi di luar kota. Jadi bisa dibayangkan betapa kagetnya kami ketika menerima kabar bahwa dia sudah tiada. His death changed our lives forever. Saya menyaksikan dua lelaki yang sangat saya segani, kedua kakek saya, jadi lemas tak bertenaga dan menangis terisak. Kakek dari pihak ayah, inyik saya, berkali-kali berkata bahwa anak tak seharusnya meninggal mendahului orangtuanya. Saya menyaksikan bagaimana rambut ayah saya memutih dalam waktu hanya sebulan. Saya melihat perubahan drastis dalam diri ibu saya yang semula carefree dan optimis menjadi tertekan dan senantiasa was-was. Sementara saya dan adik bungsu saya, senantiasa berada di bawah bayang-bayang almarhum. Maklum, ketika seseorang berpulang, maka orang-orang yang ditinggalkannya akan cenderung mengingat semua hal-hal yang positif darinya. Terlebih memang diantara kami bertiga, almarhum-lah yang paling tampan, cerdas, berbakat seni dan berbudi bahasa baik. Sebelum menikah dan punya anak, agak sulit bagi saya untuk memahami apa yang dialami oleh kedua orangtua. Tapi semua langsung berubah sejak saya punya anak. Sejak itu saya jadi sangat mengagumi ketabahan kedua orangtua.

Sebenarnya kita mengerti bahwa harta dan keluarga adalah titipan dari Allah, yang bisa sewaktu-waktu diminta kembali oleh sang Empunya. Kehilangan harta bisa lebh diterima. Tapi bagaimana kalau kehilangan orang yang kita cintai? Terlebih kalau orang itu adalah buah hati kita, yang telah kita kandung dengan susah payah selama 9 bulan, yang telah kita rawat dengan penuh kasih sayang sejak dia dilahirkan? Nabi membimbing kita agar mencintai Allah dan RasulNya diatas segalanya, jauh daripada kecintaan kita terhadap harta dan keluarga. Agar ketika salah satu darinya hilang dari hidup kita, maka keimanan terhadap Allah akan menguatkan diri dan hati kita. But what are we suppose to do? Should we love our kids less? How could you love your kids less? Itu pertanyaan besar untuk saya dan saya masih berusaha mencari jawaban yang paling tepat. Kalau ada diantara teman sekalian yang bisa memberi pencerahan, saya akan sangat berterima kasih.


Monday, May 12, 2008

Piala Thomas dan Uber

Sekarang lagi seru-serunya pertandingan Thomas dan Uber Cup. Kira-kira menang gak ya? (Kayana mah susah euy. China gila-gilaan kuatnya). Yah, daripada pusing mikirin BBM mau naik, mendingan menyalurkan ketegangan nonton pertandingan bulutangkis aja deh. Awalnya udah cukup bagus sih, Thomas team ngalahin Thailand 3-2 (walau seharusnya bisa 5-0 if only kedua tunggal itu tampil lbh OK) dan Uber team ngalahin Jepang 4-1. Go Indonesian Team!

PS: Karena ada pertandingan-pertandingan ini, Ricky Subagja jadi hampir tiap hari nongol di TV. Siiip lah. Kekekeke....

Wednesday, April 23, 2008

AAC versus CHSI

Saya membeli kedua buku itu bersamaan. Ayat-ayat cinta saya beli karena penasaran mendengar kehebohan film-nya yang konon sudah ditonton 3,5 juta orang. Lalu, setelah mengambil buku itu, saya tertarik melihat buku yang satunya, Catatan Hati Seorang Istri karya Asma Nadia. Saya baca sekilas, sepertinya bagus juga. Jadilah keduanya saya masukkan kantung belanja.

Sesampai di rumah, saya buka buku AAC lebih dulu. Setelah membaca beberapa halaman, hhmmm.... tidak terlalu istimewa. Gaya bahasanya kurang cocok untuk saya. Saya beralih membaca buku satunya. Nah, yang ini lebih 'nendang' buat saya. Cerita-cerita yang diambil dari true story dan sebagian besar mengenai istri yang teraniaya membuat saya terlarut dan meleleh membacanya. Dan sebagian besar perempuan yang dikisahkan di buku itu bukanlah perempuan biasa. Mereka perempuan terpelajar, dari keluarga baik-baik dan dengan tingkat perekonomian cukup mapan. Kok bisa? Sempat tercetus kekhawatiran jikalau suatu hari kisah seperti itu akan terjadi di keluarga saya. Untung, sahabat saya ini bisa menenangkan hati saya hingga kekhawatiran itu sedikit demi sedikit lenyap. Apalagi setelah suami tercinta, yang entah bagaimana bisa membaca kekacauan hati saya, tanpa banyak bicara bisa memulihkan kepercayaan diri saya yang sempat goyah.

Habis buku pertama, akhirnya saya ambil juga buku AAC. Saya ulang membaca dari awal. Lembar demi lembar, bab demi bab, ternyata memang mengasyikkan. Tulisannya lugas tapi memikat. Walaupun kisahnya fiktif, tapi banyak hal yang bisa diterapkan dalam kehidupan seperti bagaimana memperlakukan pasangan dalam berumah tangga, ahlak muslim dan muslimah, percintaan yang islami bahkan tata cara malam pertama menurut Islam. Tak berlebihan kalau novel ini disebut sebagai pembangun jiwa, dengan adanya cuplikan-cuplikan ayat suci Al-Qur'an, hadis-hadis dan bahkan puisi-puisi yang ditempatkan di bagian yang sangat sesuai, bukan hanya tempelan pemanis saja. Saya jadi berpikir, andai saja ada lebih banyak remaja muslim seperti Fahri dan muslimah seperti Nurul dan Aisha di dunia ini, saya rasa Islam tidak akan mendapat label-label negatif seperti yang terjadi sekarang. Dan setelah selesai membaca novel itu, saya seakan memandang lingkungan ini dari kacamata yang baru. Kalau dulu pemandangan anak-anak muda berpacaran, bergandengan tangan atau bahkan berangkulan tidak mengusik saya atau bahkan merupakan hal yang sewajarnya, setelah menyelesaikan AAC saya jadi membatin, betapa jauhnya Islam dari keseharian kita. Agama hanya identik dengan shalat, puasa, pergi haji, dan zakat. Memang benar sekali sabda junjungan Rasulullah bahwa ada masanya nanti umat islam akan menjadi seperti buih di lautan. Banyak, tapi tidak berdampak. Dan bisa dihapuskan dengan sangat mudah. Sekarang, masa itu sudah tiba.

Sepertinya tidak afdol bicara islam kalau tidak menyinggung masalah poligami. Di dalam novel AAC juga ada bagian yang memuat kisah poligami tokoh-tokoh utamanya. Tapi, menurut saya pribadi, penggambarannya tidak mengarah kepada anjuran untuk berpoligami. Di kisah ini, keputusan untuk berpoligami lebih dikarenakan alasan kemanusiaan dan dakwah. Wanita yang dijadikan istri kedua adalah wanita yang sedang sakit parah dan membutuhkan bimbingan untuk bisa menemukan hidayah dari Allah SWT, bukan wanita muda segar bugar cantik jelita :P. Tindakan itu juga dilakukan atas desakan istri pertama, yang merasa sangat membutuhkan bantuan wanita 'calon madu'nya dan tidak mau kehilangan suami karena fitnahan keji. Mungkin, kalau ada alasan yang tepat untuk berpoligami, inilah salah satunya. Selain mengikuti teladan Rosulullah, tentunya, yang sebagian besar istrinya adalah janda-janda tua yang ditinggal mati syahid suaminya, berusia diatas 55 tahun dan memiliki banyak anak.

Mungkin saya memang kurang banyak membaca buku-buku 'pembangun jiwa' seperti ini sehingga sangat membekas di hati, entahlah. Yang pasti, untuk saya saat ini, kedua buku inilah yang jadi favorit saya. Bahkan bisa membuat saya melupakan seri Harry Potter yang membius itu!

Monday, April 21, 2008

Apanya yang terhormat?

Koran kompas minggu, halaman pertama.
Anggota DPR sita kamera video.

Saya pikir beritanya tentang apa. Mungkin anggota DPR itu menyita kamera video yg dipakai untuk kejahatan. Ternyata, setelah dibaca, kamera itu disita karena dipakai oleh satpam untuk merekam kelakuan tak terpuji sang anggota DPR sendiri. Ceritanya, si anggota DPR itu mau memaksa mobilnya keluar dari halaman parkir gedung lewat pintu gerbang masuk. Jelas gak diperbolehkan sama petugas, kan berbahaya dan bisa mencelakakan pengemudi yang lain, toh? Tapi si anggota DPR malah ngotot, dan akhirnya memaki-maki sang petugas satpam. Konon sempat keluar kata-kata seperti ini: "Saya ini anggota dewan. Kalian rakyat kecil, tahu apa?" Karena ribut-ribut itu, salah seorang petugas parkir langsung mengambil kamera handycam yg memang disediakan oleh pihak pengelola gedung untuk merekam keributan semacam itu. Waktu sadar dia direkam, si anggota DPR lalu merebut kamera itu. 2 orang pengawalnya menghalang-halangi petugas yang berusaha mengambil kembali kamera dan berlalulah mereka dari sana. Apesnya, penggantian kamera yang baru berumur 4 bulan itu dibebankan pada petugas satpam yg bersangkutan, jadi gajinya dipotong untuk menggantikan harga kamera itu!

Saya meradang sekali membaca berita ini. Apakah seperti itu kelakuan anggota dewan yang terhormat? Seenaknya melanggar peraturan dan tersinggung ketika diingatkan bahkan menyerang balik? Karena merasa diri terhormat, lalu semua orang lainnya cuma sampah dimatanya? Apanya yang terhormat? Tak heran Indonesia makin hari makin terpuruk. Para wakil rakyat bukannya sadar posisi sebagai wakil, malah merasa jadi dewa yang harus disembah. Jadi anggapan dan pandangan masyarakat selama ini memang benar adanya. Seperti itulah kualitas manusia-manusia yang terpilih untuk menduduki kursi kehormatan itu. Jadi ini salah siapa? Rakyat yang memilih, atau partai yang menetapkan para wakilnya? Tentunya partai tidak mau disalahkan. Jadi yang salah, akhirnya, rakyat lageee.... rakyat lageee.... Cape deeehhhh jadi rakyat!

Friday, April 18, 2008

My dream

Be careful with what you wish for, 'cause you might just get it

Saya baca pepatah itu bertahun-tahun yang lalu, dan sangat berkesan hingga selalu saya ingat sampai saat ini. Kenapa? Karena artinya dalam sekali. Buat saya, pepatah itu berarti apa yang kita inginkan dan dapatkan tidak selalu baik bagi kita. Dan apa yang tidak berhasil kita raih bukan selalu berarti kegagalan dan buruk jadinya bagi kita. Efeknya, saya selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Tengok-tengok, tanya kiri kanan, kupas luar dalam. Dan walhasil, setelah keputusan diambil dan dijalankan pun, saya terkadang masih bulak balik berpikir, benarkah keputusan yang sudah saya ambil? Apakah memang itu yang terbaik buat saya? Bagaimana kalau... dst, dll.

Kalau di islam, ada istilah istidraj, yaitu kenikmatan yang sebenarnya adalah azab. Nauzubillah, jangan sampai itu terjadi pada saya. Seringkali setelah mendapat kenikmatan, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah benar ini hadiah Allah? Apakah akan ada bencana dibaliknya? Salahkah saya sudah meminta sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai bagi saya yang pada akhirnya akan membawa akibat buruk bagi diri saya sendiri? Contoh yang paling jelas adalah ketika lulus UMPTN dulu. Saya seorang diri di kota asing, tanpa saudara, teman baru segelintir, dapat tempat kost yang sama sekali tidak menyenangkan, rasanya sengsara sekali. Hampir setiap malam saya menangis, menyalahkan diri sendiri kenapa memilih mendaftar ke sana? Kenapa saya tidak kuliah di jakarta saja, di universitas cadangan yang sudah menerima saya, dan kenapa kenapa lainnya. Di Jakarta, ibu saya juga sama sengsaranya dengan saya. Melepas anak gadis satu-satunya di tempat asing yang tidak berkenan untuknya. Beliau selalu menelepon setiap hari mengecek keadaan saya, dan setelah itu, menurut cerita ayah saya, jadi tak bernafsu makan. Untung keadaan itu tidak lama, hanya dua bulan, setelah itu saya pindah ke tempat yang jauh lebih baik di mana saya tinggal sampai kuliah hampir selesai. Tapi di masa awal-awal itu, saya sempat meragukan pilihan saya. Dan saya sempat berpikir, mungkin saya salah telah berdoa agar lulus UMPTN dan diterima di kampus tercinta itu. Mungkin Allah ingin menunjukkan pada saya bahwa tidak semua yang saya inginkan itu adalah baik bagi saya, walaupun akhirnya Syukur Alhamdulillah semua prasangka buruk saya itu salah adanya.


Sebelum berangkat ke Jepang, keadaan itu seperti terulang lagi. Kami berdua, saya dan suami, diliputi keraguan yang hebat untuk memutuskan apakah akan berangkat atau melepas tawaran yang baik itu. Sebagian besar keraguan disebabkan oleh pihak ke-3 yang entah kenapa memberikan banyak gambaran buruk pada kami. Menurutnya, kepergian kami hanya akan berujung sengsara. Dia memprediksi bahwa sepulang kami dari jepang, kondisi kami akan semakin jatuh dan keuangan kami akan porak poranda. Kami bimbang, benarkah akan begitu adanya? Untungnya, orangtua saya dan mas sangat mendukung kepergian kami. Merekalah yang menyemangati kami untuk tidak ragu dan berusaha sekuatnya agar bisa mendapat yang terbaik di negeri orang. Dengan mengucap Bismillah, kami berangkat dan sekali lagi, Alhamdulillah, semua prediksi buruk itu tidak benar. Justru sepulang dari sana, mas mendapat peningkatan karir yang baik.

I have a dream. Sejak remaja dulu, ada sesuatu yang selalu mengusik hati saya. Tapi mimpi itu saya simpan rapat-rapat, karena tak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Sedikit demi sedikit, hal itu menjadi obsesi dalam diri dan terpendam dalam, bahkan sedikit terlupakan. Baru-baru ini saja saya ungkapkan obsesi saya itu pada orang-orang terdekat: suami, adik, sahabat. Itupun karena tiba-tiba saya mendapat pilihan yang bisa membukakan pintu kesempatan itu. Dan sekali lagi, keraguan menyelimuti hati saya. Haruskah saya wujudkan mimpi itu? Apakah
akan membawa akhir yang baik atau buruk bagi saya dan keluarga? Walau suami tercinta menyatakan dukungannya, tapi saya tetap merasa tak karuan. Kalau impian itu terwujud, artinya my dream finally comes true. Dan itu bisa membuka jalan bagi terwujudnya mimpi-mimpi kami yang lain. Tapi banyak yang menjadi taruhannya. Dan taruhan itu sangat berat. Di lain pihak, kalau ternyata pintu itu tetap tertutup, saya rasa saya akan merasa cukup terpukul. Dan impian itu akan terkubur selamanya. Walau saya akan terus berusaha membesarkan hati dengan kalimat klise: Mungkin itulah yang terbaik bagi saya. Sementara ini, saya berusaha memantapkan pilihan sambil terus berdoa, Ya Allah, berikanlah apa yang menurutMu terbaik bagi saya dan keluarga saya. Dekatkanlah kami dengan ridhoMu. Amiiinnn... (bantu saya berdoa ya, temans).

Sunday, April 13, 2008

Gantian

Alhamdulillah, multiply udah bisa ditengokin lagi. Eeeeeh.... ternyata gantian blogger yang di block. Aduh.... blog go blog go blog deh. Piye tho iki? Maunya provider apa toh (ini kerjaannya spidi kan, bukan pemerintah sendiri yg nutup? Ato emang pemerintah langsung? Tau ah, pusiiiinggg.... pussiiiiingg.....

Tuesday, April 01, 2008

Kid's Wits

Suatu hari, waktu lagi jalan-jalan ber-4 naik mobil, Reyhan duduk di sebelah bapak yang nyetir, mama dan adek di belakang. Reyhan gak bisa diem banget, adaaaaa.... aja yang dipegang. Sampe berbusa mulut mama nyuruh dia duduk tenang. Tiba-tiba, dia merosot dari kursi trus melongok-longok ke bawah dashboard. Bapak yang merasa keganggu jadi kesel, nyuruh reyhan duduk lagi yang tenang. Tapi Reyhannya tetep aja longok-longok. Akhirnya mama tanya:
"Nyari apa sih, Han?"
"Nggak," Sambil terus longok-longok.
"Kalo nggak, jangan begitu dong. Duduk aja yang bener."
"Aku lagi cari giginya mobil, ma. Mana sih? Waktu itu aku cari di depan gak ada. Di sini kok gak ada juga?"
Mama sama bapak ngakak.

***

Waktu saluran air kamar mandi dan dapur mampet, mama sama pembantu berjibaku mompa dan ngebersihin saluran di kamar mandi. Reyhan yang baru masuk setelah main dari luar, ikut ngelongok ke kamar mandi. Komentarnya:
"Mampet ya ma?"
"Iya."
"Sama dong sama idung aku," (kebetulan memang dia lagi flu) sambil ngeloyor pergi keluar lagi.

***

Adek lagi asik nonton acara idola cilik sambil joget-joget niruin penyanyi di TV (judul acaranya idola cilik, yang nyanyi anak-anak, kenapa lagunya lagu orang tua seperti percayalah kasih, dll ya?). Mama komentar:
"Dek, nanti adek ikut acara itu ya."
"Iya," jawab adek sambil terus goyang.
"Adek nyanyi lagu apa? Lagu mulan ya?"
"Iya," adek asal jawab.
"Lagu apa, ma?" Reyhan tanya.
"Lagu Mulan, itu tuuhhh..." Mama gak mau perjelas maksudnya.
"Oo.... Yang ini ya, Ambilkan Mulan-ku..." kata Reyhan serius.
Bapaknya ngakak.

***

Adek kalo mandi, pake shampoo, terus rambutnya dibentuk aneh-aneh, ditarik sana sini jadi kayak tanduk. Trus dia bilang:
"Ma, mau liat kaca. Aku cantik apa cantik?"

Wednesday, March 26, 2008

Mahluk Tuhan yang paling lucu


Izza sekarang udah makin kenes aja. Seperti kayak kakaknya waktu umur 3 tahun dulu (malah kalo kakaknya dari umur 2 tahun, sih), Izza lagi seneng-senengnya nyanyi. Setiap hari, setiap waktu, nyanyi teruuuss... (kecuali kalo lagi tidur. Hehehe...). Ini nih lagu-lagu yang paling sering dinyanyiiin sama si adek:
- Theme song-nya Mamamia (gara-gara ortunya nonton demen mamamia celeb show). Bahkan sampe sekarang kalo liat mantan MC acara itu, dia langsung nunjuk trus bilang itu mamamia. Heheheh....
- Kakak mia. Gara-gara kebanyakan naik odong-odong (yang tinggal di luar negeri pasti gak ngerti apa itu odong-odong. Itu hiburan rakyat kecil, semacam komidi puter tapi keliling kampung dan dikayuh kayak becak gitu deh. Selamat membayangkan...). Padahal itu lagu kan dari jaman mamanya kecil udah beken ya? (Pengen tau juga siapa yang bikin lagu itu, ya? Soalnya dari kecil dulu tiap denger lagu ini, pasti gw mikir kok gampang banget ya minta anak ke si kakak mia ini? Emang dia punya tempat membiakkan anak, apa? Trus abis itu si anaknya mo disuruh jualan lagi. Bener-bener eksploitasi anak. Bisa digasak abis tuh ama kak seto n anak buahnya. *Apa seeh... jadi ngelantur*).
- Bilang saja oke. Ini lagu emang enak ya, bahkan buat yang suaranya pas-pasan, karena nyanyinya gak pake usaha :D.
- Mahluk Tuhan yang paling seksi. Naaahhh... ini nih yang jadi perkara. Gak pernah ada yang ngajarin, wong gw gak demen banget dengerin teks-nya yang menjurus-jurus itu, trus asisten di rumah jg gak pernah nyanyiin ini lagu (I should know, gw kan hampir tiap saat di rumah. Di waktu2 gw keluar rumah, si adek hampir bisa dipastikan nguntit mamanya). Kayaknya dia cuma beberapa kali denger plus nonton di TV (Warning! Sudah terbukti TV emang berbahaya). Dan umumnya anak-anak, 2-3 kali denger langsung deh hapal. Bagian reff-nya pula. Bisa bayangin kan risihnya denger anak-anak nyanyi kayak gini:
mahluk tuhan yang tercipta yang paling cekci.
Cuma kamu yang bica membuatku terus menjerit.
Au au au... ah ah ah.
..

Ancur.... ancur. Tapi gw gak unjukin reaksi yang terlalu keras, karena kalo makin dilarang pasti makin sering dia nyanyiin. Gw alihin aja ke lagu lain tiap kali dia mo nyanyi itu. Lumayan berhasil sih. Tapi yg bikin gw kesel banget sih ya yang bikin lagu ama penyanyinya itu. Gak mikir apa ya, efeknya ke anak-anak. Kan dia sendiri juga pada punya anak. Gimana kalo tu lagu dinyanyiin setiap hari sama anak-anaknya? Kira2 seneng gak dia dengernya? (kalo bilang seneng, gw toyor nih jidatnya). Yang bikin, yang nyanyi, sama aja kblingernya. Kalo yg nyanyiin bilang itu diluar kuasa dia, dia cuma nyanyiin dan gak bisa nolak, bullshit banget. Kayak gak ada lagu lain aja. Tinggal bilang, sori, gw gak sreg ama lagunya. Bikinin yang laen yang lebih bagus dong. Titik. Selesai perkara.

Emang makin susah jaman sekarang ngedidik anak-anak. Banyak banget batu sandungannya. Belom lama juga rame kasus video porno diumpetin ditengah film Naruto dan power ranger (tontonannya anak gw semua tuuuh). Kalo soal warnet yang dijadiin tempat buat buka situs porno sama anak2 sih udah bukan barang baru deh. Jadi rada bersyukur juga tinggal di kampug, yang anak-anaknya cuma hobi maen sepak bola. At least moralnya masih pada intact (hopefully). Walaupun sekarang Reyhan ngomongnya udah mulai ketularan temennya: Iya dah! :))

Thursday, March 06, 2008

Morat marit

Capee... bosen...
Tiap hari baca koran, lebih banyak berita buruk daripada berita baik.
Harga minyak goreng naik lagi. Dari 7 rebu sekilo, jadi 11 rebu, dan sekarang 15 rebu.
Harga terigu naik juga, dari 7 rebu jadi 13 rebu.
Harga kedelai naik, harga tempe naik.
Harga beras naik.
Pengangguran naik.
Gaji kapan naiknya?

7250 penjual mie pailit.
Jumlah penjual tempe turun drastis.
Sebagian penjual tahu sumedang gulung tikar.
Sebagian penjual kerupuk bangkrut.
Hasil produksi padi turun.

Banjir dimana-mana.
Jalan rusak berat di banyak tempat, bahkan di jalan protokol.
Flu burung gak habis-habis.
Salah satu jaksa terbaik tertangkap tangan menerima suap.
Ibu hamil dan anaknya mati kelaparan karena 3 hari gak makan.

TOOLOOOOONGGGGG!!!

Mau jadi apa negeri ini?
Kemana para pemimpinnya?
Kenapa malah sibuk ikut pencalonan ini itu?

Pusing, bete, gemes...

Friday, February 22, 2008

I'm on a diet!

Dieting. What a big word! Especially for a food lover like me. After all, my biggest obsession is chocolate! So, ever since the Idul Fitri, I can't help but gaining a few weight from all those kaastengels and cheesecake I ate (I know, I know, I have no one else to blame but myself). I keep telling myself that I will start eating less and excercise more, but what can I say, there's always movie to translate and work to do in front of my computer (excuse and excuse. Yeah I know).

Then, several weeks ago, Mas said that he sometimes felt pain in his leg especially when he sat down during prays. I told him to go to the doctor, but he said that it must be because of his weight. Douh! I've been telling him to loose some (yeah right. Hark who's talking, girl!). Later that week, he informed me that the pain had diminished, due to the change of his lunch menu. That's news for me. But I was still concerned about it, so I made a mental note to find out about healthy eating habit.

Last week, the four of us went to a book store. There, as always, I browsed in the food section. I came upon a book titled Food Combining by Andang Gunawan. Interested, I picked it up and started to check it out. It turned out to be a very interesting and informative book. It explained about human digestive system in a simple way that can be understood by everyone. It described types of food and how we process it in our body. It also gave a thorough explanation about food combining, complete with examples, menu and recipes. Without thinking much further, I decided to buy the book and tried the food combining method.

Since I gained weight, not only I can't wear most of my clothes, but my stomach also felt bloated most of the time. I suspected it caused by my chronic ulcer (well, at least I suspect it chronic because I already suffer from it since I was in high school). Even though I ate a lot to avoid it (which resulted in my obesity), it never cured completely and I have to avoid eating acidic food like orange if my stomach was empty. I also had irregular bowel movements, bad breath and felt fatigue often. All in all, I concluded that it's time to make a change.

I started to apply the food combining diet on monday. From the book, I found out that I should only eat light food such as fruit in the morning. I started the day with drinking two glasses of warm water with a squeeze of lime . To be honest, it frightened me. I couldn't imagine what happened to my empty stomach if I do it. But I pluck my courage up and I did it. Much to my surprise, my ulcer didn't occur. In fact, It never occurred even once in these 5 days I did the food combining method! Hoorraay!! It's true that I felt a little light-headed on the first day, but that's it! I even started to feel lighter and had more energy than before. My body seemed to be loosing some of its fat and I've only been doing it for 5 days! It's amazing!

Actually, the food combining method was simple. We had to arrange the food that we ate so that our body could process it thoroughly and get rid of the waste more efficiently since the unprocessed food tend to stay in our digestive system and root there. No wonder I had bad breath! Anyway, there were 3 major nutrient substances that held an important role in our body. They were carbohydrate, protein and fat. Human digestive system could not process too many substances at the same time. To avoid that, we needed to arrange our eating habit so that we wont' be eating too many major substances at the same time. For example, we shouldn't eat rice and meat because that would mean carbohydrate and protein content was almost the same and we would need a lot of energy to process them. So instead of getting energy from our food, we wasted the energy to process it. Imagine that! What's more important, if we did it in the long run, we would develop diseases such as high blood pressure, asam urat, heart attack, kidney failure, tumor, etc.

The suggested diet was like this. In the morning, you ate only fruit until noon. For lunch, you ate a portion of vegetables and carbohydrate like rice or noodle. Or, you ate a portion of vegetables and meat without rice. For dinner, you ate a portion of vegetables with meat or with carbohydrates, depend on your lunch. Between meal, you could eat fruit or juice, of course without any additional sugar. That's it. Simple, isn't it?

Well, actually, it's not that simple. I mean, you have to read the book to understand the method completely. I mean, it explains about milk, beans, vegetable-fruit, etc. that you need to know before you start the diet, but to make it simpler, the conclusion is as above. One thing I like most about this method was that I didn't have to starve to make it work. God knows I couldn't stand eating small portion of food. That's why usual diet system didn't work for me. Anything that involved weighing food and sizing them didn't tempt me. This week, I still ate a bowl of rice every day, one time I even add noodles as a side dish! I ate delicious grilled chicken, rawon, teriyaki (I tried the recipes in the book and man! They are delicious!), but I still loose fat. My stomach never bloated again, my bad breath was history, and I could loosen my bowels regularly now. Alhamdulillah. On top of it all, I never feel hungry! Hehehe....

I am now in the process of persuading my husband and both my parents to do the same thing and eat the same way like me. They are intrigued, but still hesitated to do it *sigh. My parents have even bought the book but they haven't read it yet. Ah well, I'm sure they will follow my lead after they see the result with their own eyes and do the food combining method as well, and get rid of those handful of pills (it's literally a handful) that they take everyday for their high blood pressure, asam urat, ulcer, and God knows what.

Thursday, February 14, 2008

Reuni Fisika angkatan 91

It's been quite a long time since I last saw my friends from Physics. After we graduated from ITB, we practically never had the chance to get together anymore. That's why when one of them suggested that we had a little reunion, complete with our spouse and family, I readily agreed.

We met on saturday, Feb. 9, in Pras's house in Pondok Gede. I previously asked Cholid, the EO, whether we need to bring some food or not. But Cholid said we could just collect some money and give it to Pras afterward. It's simpler. Ok, I agreed. But as I promised to bring one of my 'creation', I still brought a blackforrest cake and spaghetti (because my children are picky eater, so I'd better bring something that they really like).

On the D-day, we arrived at the place the same time with Yayan and his family. Cholid and his new wife were already there. And then I did a stupid thing. I dropped the cake that I very meticulously prepared the night before. Gone was the beauty of that cake. Bummer! Fortunately (typical Indonesian. Always look for the bright side), it's not completely damaged. So it's still edible. Meanwhile, Pras and his wife (and I guess, his mother as well) have prepared some delicious cuisine for the occasion. The ox tail soup was definitely tasty, not to mention the pangsit which was served with mayonaise sauce (honestly, I never thought pangsit could go with mayonaise but it was great). Yummy!!

Later, Jose and his family and then Remon arrived. As Remon was the only single amongst us, he resignedly became the object of other ridicules (so much for the promise of not asking, not teasing you, ya Mon? Hehehe...). And then Aas and his son arrived. As Reyhan was the only boy in the group (because all other kids were girls), he was glad to have another boy to play with. And how they play! Meanwhile, Izza, as always, was willing to play with other girls as long as they didn't touch her toys (or to be exact, the host's toys which she considered her own :D). But then she played with Jose's and Yayan's kids, who were older than her.

Finally, it's time to go home. But of course, we took some picture first. My sone and Aas's son were some of the photographers, so the pictures you're about to see were taken by Reyhan. I should say they're not bad. Not bad at all.


PS: Anyway, I want to tell you the fate of my cake. Despite its crumble look, everyone still love it. As I said to them, the accident merely change its look, not the taste. And it's almost gone by the time we were ready to go home, and I was very glad about it :D. Anyway, it's the original looks.

Wednesday, February 13, 2008

(Ini dia) Foto-foto rumah kami

Akhirnya, sempet juga upload foto2 ini (sesuai janji sebelumnya). It's not much, but it's our home. Enjoy!!

Ini waktu masih berupa tanah kosong dan baru 50% selesai
Ini udah 75% selesai.
Dan inilah hasil akhirnya. Si adek ikut mejeng depan rumah.



Thursday, January 31, 2008

Kisah Pindahan

Pindahan? Kapan? Kayaknya udah lama deh. Iya siiih.... Bulan November lalu. Basi gak ya? Gak deh ya, kan baru 3 bulan lalu (Hihihi... 3 bulan gak basi. Biar ah, mau baca silahkan, gak ya udah).

Jadi, tanggal 10 november itu, kami sekeluarga pindah dari kompleks Pondok Duta ke Cipedak, Srengseng sawah. Dari rumah kontrakan ke Istana mungil terpecil. Hihihi.... Biar mungil dan terpencil, tapi kalo rumah sendiri ya tetep aja istana rasanya. Ya tokh?

Persiapan pindah udah dimulai sejak 2 hari sebelumnya. Nge-pak2 barang2 yang kayaknya sedikit tapi setelah dibungkus dan ditumpuk kok ya jadi banyak juga ya? Buku2, mainan anak2, pakaian, peralatan dapur, loyang, pernak-pernik. Aje gile. Walaupun udah terlatih packing (kl dipikir2, ada deh sekitar 7 kali gw packing, termasuk buat pindah ke jepang dan balik ke indonesia), tetep aja yang ini rekor. Jadi gambarannya begini. Pertama pindah dari pondok mertua indah di bukit duri ke jl. cucak rawa, gak perlu sewa mobil truk. Terus pindah dari situ ke lenteng agung waktu bapaknya reyhan mau ke jepang, sewa truk kecil jadi kudu bulak balik 2 kali. Pindah dari LA ke Pondok duta, sewa truk rada gede yg juga kudu bulak balik 2 kali. Dan sekarang, pindah dari pondok duta ke Cipedak, sewa 2 truk rada gede yang salah satunya kudu balik sekali lagi. Hahahah.... Jadi makin lama, makin banyak barang yg kita angkut deh (iyalah, tadinya berdua, trus bertiga dan sekarang berempat). Abis ini kalo pindah lagi, berapa truk ya barang2nya? Aduuhh... moga2 gak ada acara boyongan lagi deh (kecuali kalo si babe dapet beasiswa lagi jadi boyongannya ke luar negeri. Gak pake truk2an kan? Cukup angkat kopor. Kekeke....).

Untungnya truk itu udah all in. Maksudnya, dia sekalian bawa tukang angkut barang. Jadi gak perlu repot2 ngerahin sodara2 dan tetangga buat ngebantuin. Jam 8 pagi truk dateng, langsung loading barang2 yg gede kyk lemari (salah satu lemariku tingginya 2 meter!! Untung bisa juga masuk ke truk), tempat tidur, kursi tamu, kulkas dan mesin cuci. Mobil kedua diisi si primadona, kursi pijet (itu kudu masuk duluan, soale biar posisinya paling bagus gak kehantem barang2 lain), baru diisi barang2 rada kecil kyk meja komputer, rak tv dll. Truk penuh, langsung deh mereka berangkat dipandu sama mas yang ikut di salah satu truk itu. Gw, anak2 n asisten masih tinggal di rumah, beberes yg kudu diberesin. Jam 11-an, salah satu truknya balik lagi, angkat barang2 yg tersisa kayak sepeda, kompor, rak piring, dll. Angkut punya angkut, ternyata gak semua pernak pernik itu masuk ke truk! Ya sud deh, sisanya diangkut si jago merah. Jadi setelah truk berangkat, gw dan pasukan jg menyusul naik si jago merah bersama barang2 yang tersisa. Bersamaan hujan mulai turun rintik2. Aduuh... semoga gak deres dulu deh hujannya. Kesian amat yang nurunin barang di rumah baru, sambil berbasah2an. Blm lagi barang2nya jg jadi ikut basah.

Sampai di cipedak, hujan mulai rada deres. Pas masuk rumah, alamaakk... amburadulnya. Si mas gak tau barang mana kudu ditaro mana. Jadi deh mama berjibaku angkut2 itu barang dibantu si Misah, mas danAfi. Anak-anak sama nenek-inyiknya yang udah nungguin di cipedak. Kira2 satu jam-am, baru mulai keliatan bentuknya itu rumah (emang tadinya gak berbentuk ya?). Maksudnya, tadinya kayak gudang banget krn semua numpuk diruang tengah. Sementara itu, hujan makin deres dan karena garasi blm punya atap, airnya muncrat sampai ke depan pintu dapur. Aduuhh... bener2 deh. Pas banget gitu lho. Pas pindahan, pas hujan gede, pas garasi blm punya atap. Oya, pas airnya juga blm bersih, masih rada bercampur tanah krn blm dipakai rutin. Akhirnya, jam 4, gw dah gerah banget deh. Trus boyong pasukan (minus mas yg masih nemenin tukang pasang tralis) ke rumah nenek buat mandi dan shalat. Sementara itu hujan makin deres aja.

Di LA, setelah mandi dan shalat, tiba2 ada suara keras banget di depan rumah. Kayak benda berat jatuh. Buru2 ke depan. Pas diliat, tahunya ada pohon gede roboh, sodara2. Dari seberang rumah nyokap sampe ke atap garasinya. Yang bikin gw istighfar panjang pendek, batang itu pohon cuma berjarak 40 cm-an dari bagasi mobil alias kalo gw parkir agak belakang sedikit aja, abis deh bagian belakangnya si jago merah. Untung tadi pas parkir, gue punya feeling, parkirnya rada majuan sedikit ah daripada biasanya. Ternyata oh ternyata.... masih dilindungin Allah juga gw. Alhamdulillah.

Setelah hujan sedikit reda, gw ajak pasukan balik lagi ke rumah. Trus sepanjang jalan ke cipedak, kami lihat banyak pohon yang bertebaran juga alias pada roboh. Duuhh... bener2 syukur Alhmadulillah deh gw gak balik tadi pas lagi hujan angin. Apa jadinya kalo kena pohon roboh di tengah jalan? Oya, jalannya juga rada banjir krn sungai meluap. Pokoke seru deh, kayak di pelem2. :D

Dan, akhirnya sampai deh gw di rumah. Tukang dah selesai pasang tralis, bahkan udah masangin tempat tidur juga (tadinya kami kira bakal tidur di lantai beralas kasur aja soalnya udah males aja ngebayangin kudu pasang itu tempat tidur lagi). Makasih yaaa... Trus beres2 sedikit, tau2 nyokap telpon. Katanya rombongan tante-om gw alias adik2nya nyokap mau nengokin, dalam perjalanan. Oke deehhh.... Tunggu punya tunggu, kok gak nyampe2? Ternyata mereka kebingungan gak tau jalan. Setelah gw pandu lewat telepon, sampe juga akhirnya. Ngobrol2 bentar, trus mereka pulang lagi. Sementara kami, setelah itu makan, abis itu tidurrrr.... capek berat.

Esoknya, tukang AC baru dateng dan pasang AC. Acara beres2 dilanjutkan. Dan terus dilanjutkan sampai kira2 1 bulan kemudian, untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hehehe.... Tau dong, bapaknya Reyhan. Gak betah kalo liat ada yang ganjil dikit, maunya diberesin atau dibuang. Jadi ya... beberes lagi. Minggu lalu aja doski masih beberes. Gw minggir aja deh, dengan alasan ada kerjaan film. Hehehe...

Oya, tukang yang mau buat dak garasi dateng 3 hari setelah kami pindah trus mulai kerjain itu garasi. Kira2 2 bulan kemudian, garasi selesai. Habis itu, gw dan mas ngecat garasi dan pagar. Dan sekarang, alhamdulillah semua udah bisa dianggap selesai. Reyhan udah punya kamar sendiri lengkap dengan AC dan TV dan udah tidur di situ juga (walau masih ditemenin bapaknya, jadi udah sekitar 2 bulan-an ini deh gw pisah ranjang. Abis, si Reyhan, walau udah pules tapi kalo bapaknya pindah, dia terus bangun dan ikut pindah juga. Kacau deh). Oya, Reyhan juga udah pindah sekolah. Gak lagi di SDIT pondok Duta tapi udah di Yayasan An-Nuriyah yang deket rumah. Di rumah juga udah ada saluran telepon, thanks to one of my aunts. Tapi internet belom ada krn baru bulan depan speedy punya stock nomor lagi. Doain ya semoga cepet dapet, biar gw gak usah wara wiri ke warnet lagi (oya, foto2 menyusul ya. Soale blm diedit sih). Sekian dulu deh cerita pindahan gw. Doain semoga gw sekeluarga tambah berkah tinggal di sana, banyak kenalan baik dan banyak rejeki. Amiiinn....

Monday, October 29, 2007

Perjalanan Mudik Dilanjutkan

Malem itu, di kamar pojok basement hotel, si mas ngeluh tangannya sakit krn salah tidur malam sebelumnya. Jadilah gue menjelma jadi tukang urut dadakan, ngurutin tangan, bahu dan punggungnya pake balsem. Trus kita semua tidur deh, walau anak2 rada gak nyenyak kayaknya karena udah terbiasa di kamar AC.


Keesokan pagi, siap-siap, cabut dari hotel jam 7 kurang. Kata mas, kok tangannya malah tambah sakit. Nah lho. Sampe2 buat ganti persneling aja mesti pake tangan kanan. Waduh, gaswat deh. Perjalanan masih jauh gini, gimana pula kalo pas di tanjakan nanti? Akhirnya ganti posisi, mobil gue ambil alih. Dan mulailah petualangan baru gue jadi supir angkutan mudik Bandung-Purwokerto.

Awal-awalnya sih gak masalah. Kan langsung masuk tol, trus keluar tol belok kanan arah nagrek. Nah, ini dia nih, yang kemaren macet. Berangkat pagi2 dari hotel dengan harapan gak kena macet. Ternyataaa.... macet jugaaa!!! Gile aje deh, masa jam 7 pagi udah macet. Gak sampe berhenti ti, sih. Masih ada jalannya juga. Tp ya bikin bete juga, apalagi banyak angkutan umum yang main serobot. Trus jalannya nanjak, jadi mesti main kopling. Aduuhhh... gempor deh kaki gw.

Kami baru terbebas dari macet jam 9, setelah lewatin jalan kereta dekat pertigaan nagrek-sumedang. Jadi ternyata penyebab macetnya itu ya si jalan kereta itu. That's it! Ih, nyebelin banget. Kirain ada apaaa... gitu. Dan fyi, kemacetan itu selalu berulang setiap tahun. Kenapa juga gak dicari alternatif solusinya ya? Pindahin kek jalan keretanya, ato malah jalan rayanya sekalian.

Lepas dari rel kereta, jalan lumayan lancar. Jalannya juga rada mulus, walau di beberapa tempat rada bergelombang. Gue malah sempat tarik-tarikan sama pengemudi mobil lain.
Nasib keluar kota naik mobil tua, supir lain bawaannya gerah aja liat mobil gw. Dikirain gak mampu lari. Padahal pas mereka dah deket dibelakang gw, trus tu mobil gw geber, ternyata mereka malah ketinggalan juga kok (ini dialami oleh mobil kijang yg berkali-kali coba nyalip tapi malah ketinggalan terus akhirnya pasrah ngebuntutin gw sampe gw masuk pom bensin. Hihihihi....)

Jam 11, mampir sebentar di restoran, istirahat n makan siang (supir mo ngaso dulu, euy). Mertua telpon, dah sampe mana? Kata suami, ciamis. Ooohh... deket dong. Paling 2 jam lagi sampe. Hhhmmmm... Setengah jam kemudian jalan lagi. Trus gw bilang, sebenernya kita udah dimana sih? Kata suami, lha tadi di restoran katanya daerah ciamis. Setelah jalan beberapa lama, baru keliatan selamat datang di Tasikmalaya. Ealaaahh... belum sampe kota ciamis. Tapi baru termasuk kabupatennya. Jadi prediksi tinggal 2 jam lagi itu gugur, sodara-sodara.

Tancep gas terus, tarik-tarikan lagi sama avansa dan jeep (apa ya merk-nya? Gak jelas, konsen ke jalan sih). Kali ini gw mengaku kalah (ya iyalah. Ntu mobil keluaran thn lalu, mobil gw 20 thn lalu). Anak-anak yang di awal perjalanan kebanyakan tidur, sekarang mulai rese'.
Dikit-dikit berantem, dikit-dikit berebut. Trus yang kecil nangis. Yang gede dimarahin. Pusiinggg... pusing. Belom lagi yang gede bulak balik tanya, berapa lama lagi ma? Gw bilang, 2 jam lagi. Setelah lewat 2 jam gak nyampe juga, dia tanya terus, katanya 2 jam lagi, ma? Kok blm sampe? Gw bilang kan kata tadi mama Insya Allah. Ternyata meleset, ya mungkin 2 jam lagi deh. Dia protes, masa tambah 2 jam lagi? Gw bilang, kan mama gak bisa nentuin kondisi jalan. Trus dia sok ngasih nasihat, makanya jarumnya (speedo meter maksute) di angka 100 aja ma. Wakkss! mo masuk jurang apa? (Buat yg gak tau kondisi jalan ciamis-majenang, itu penuh lika liku laki-laki, eh lika-liku modelnya jalan menuju bandung lewat cikampek. Gak kyk jalan puncak banget sih, kl itu kan terlalu jurangnese ya...). Belom lagi kalo di depan ada iring-iringan rombongan mudik naik motor. Atau angkutan umum yang bisa berhenti tiba-tiba. Pokoke siaga satu aja deh.

Jam 1 lewat, masih di ciamis. Jam 2, mulai keliatan tulisan-tulisan cilacap dan banjar. Alhamdulillah, dah deket. Reyhan yg duduk di sebelah gw terus ngitungin jam (60 menit lagi ya ma? Ya, Insya Allah). Masuk jam 3, blm juga sampe purwokerto. Wadooowww.... gw udah 8 jam minus 30 menit nyetir neeehhh... Kaki dah mulai ngilu. Tapi trus ada tulisan di pertigaan, Purwokerto 9 km lagi. Gw langsung tereak, 9 kilo lagi, Han. 9 kilo itu berapa lama, ma? Dia tanya. Yah, kamu itung aja deh sendiri :D

Jam 3.20, masuk daerah purwokerto. Alhamdulillah, alhamdulillah.... Akhirnya sampe juga sebelum gw semaput. Setelah mampir ke apotek sebentar (nyari voltaren buat tangan si babe), akhirnya jam 4 kurang kami sampe depan rumah mertua. Fiuuhhhh..... Turun mobil, dengkul gw lemes plus ngilu. Tangan juga gemeteran. Kata-kata hiburan dari suami, selamat mama, dah lulus tes nyetir, bisa dapet sertifikat nyetir jarak Bandung-Purwokerto ;-P

Jadi hari senin itu, sampe di Purwokerto. Istirahat semaleman. Mertua manggilin tukang urut buat ngurutin tangan mas. Gw jg mo dipanggilin tukang urut, tp gak ada. Baru bisa besok. Ya udah deh, ini malem istirahat ajah. Udara yang rada gerah gak terlalu kerasa juga buat anak2, langsung pada tewas karena kecapekan.

Besokannya, pagi2 tukang urut dateng. Lumejen, walopun gak terlalu sip ngurutnya. Siangnya, kakak sulung suami yg mertuanya di Bobotsari gak jauh dari situ, dateng sekeluarga (waktu sampe kemaren, kakak no.2 dan 3 juga dah ngumpul sih sama keluarga masing2. Jadi dah lengkap deh ketemu semua lebaran ini). Diantara sodara yang laen, Reyhan-Izza paling klop sama trio anak kakak sulung ini, jadi mereka maen bareng deh. Ini foto2nya:





Oya, hari itu kakak no.2 sekeluarga pulang ke jakarta. Sorenya, kakak sulung balik ke rumah mertuanya, krn esoknya mau pulang ke surabaya. Sementara, kami juga mo pulang ke Jakarta. Lihat di TV sih hari itu jalanan macet banget. Mudah-mudahan besok gak macet deh.

Besoknya, jam 7 pagi, ciao dari Purwokerto. Kali ini si mas yang udah 2 kali dipijet yang nyetir (Please don't ask me to do it again. Once is enough). Langsung menuju nagrek, krn berencana nginep di bandung lagi (kl ini buat pelipur lara yang kemaren). Majenang lewat, Ciamis lewat, Tasikmalaya lewat, jalanan cukup lancar. Tibalah di dekat nagrek. Dan ternyata, macet lagi macet lagi. Dan jalan pulang ini tanjakannya lebih cihuy dari jalan perginya. Udaranya sama panasnya kayak waktu berangkat. Pusiiingg deh kepala, walaupun gak jadi supir. Terus macet sampe di pertigaan deket rel kereta itu, tp kl ini kita gak boleh lewat nagrek karena kata polisi macet total. Jadi kami disuruh lurus ke arah sumedang. Di situ udah jam 2 (gak pake istirahat tuh si mas. Susah juga mo berhenti, kejebak macet gitu). Ya udah, terus ke sumedang. Untung udah dibekalin makanan sama mertua, jadi makan di mobil deh. Ternyata lewat sumedang, macet juga. Wadoh, gimana sih ini? Jalannya lebih kecil, berliku2 dan rada tersendat-sendat. Jadilah 2 jam sendiri di situ, baru sampe Sumedang. Di sumedang dipaksain berhenti, istirahat sebentar beli minuman dingin daannn... tahu duoongg.... Beli sekeranjang langsung dilahap abis berdua (reyhan cuma makan dikit, adek gak mau sama sekali. Gak doyan mereka). Lumayan deh, ngilangin bete. Aduuhhh.... rasanya itu tahu terenak yang pernah gw makan. Seger banget, gurih, masih anget pula dari penggorengan. Tahu jepang sih kalah jauh. I love tahu sumedang (coba gw tinggal di sana, tiap hari makan tahu deh). Trus jalan lagi, ngelewatin IPDN on our way to Bandung. Kata mas, ooohhh... itu toh yg namanya IPDN. Keren juga ya? Ya keren lah, wong dibiayai negara toh (walopun sayangnya malah terkenal karena hal yang negatif).

Akhirnyaaa... jam 5 kurang dikit, masuk pintu tol cileunyi. Keluar di tol pasteur. Di sini baru mama ambil alih kemudi, krn si bapak dah gak ku ku (rekor baru, 10 jam minus 10 menit nyetir. Cihuy kan?). Selain itu, mama lbh paham jalan2 bandung. Keluar tol, langsung belok kiri ke arah sarijadi karena rencananya mo nginep di lembang. 20 menit kemudian, kami dah masuk pelataran hotel Gumirang sari di lembang. Hotelnya nyaman, ada kolam renang. Dapet breakfast model buffet pula. So lumayan jadi pelipur lara perjalanan deh.

Sayangnya, malem itu anak2 dan bapak pada demam. Kecapekan. Gw gak demam, cuma
sakit tenggorokan (sama wae, alamat mau pilek juga). Padahal anak2 dah gatel banget liat kolam renang, pingin langsung nyebur aja. Setelah dibilangin, mau juga ditunda besok paginya. Besoknya, habis sarapan yang lumayan meriah, anak2 gak bisa ditahan lagi, nyebur bur ke kolam. Gw nyusul nemenin, krn si babe gak berani nyebur masih demam. Tapi itupun gak lama, karena anginnya dingiiinnn walau matahari cerah (lembang, gitu lho). Ya udah, beres2, jam 11 cabut dari hotel. Sempet mampir ke BIP dulu krn si kakak pingin cari ikat kepala naruto (I thought di situ ada krn dulu kyknya ada toko yg jual pernik unik di situ. Ternyata tokonya udah gak ada dan BIP sekarang dah jauuuuhhhhhh banget bedanya dr jaman gw kuliah dulu. Wiiihhh... selama ini kalo ke bandung emang gak pernah mampir ke BIP sih). Ya udah, makan siang bentar, jam setengah satu cabut deh dari bandung. Jam 1 masuk tol pasteur. Syukur alhamdulillah jalanan lowong. Jam 3 keluar di pintu tol LA (memang seharusnya cuma 2 jam jakarta-bandung sekarang krn kan dah ada tol2 itu). Dan sekitar jam setengah 4 sampe deh di rumah. Senangnyaaa..... Home sweet home.... Dan setelah itu semua tewas dengan sukses. Anak2 sampai hari ini masih batuk pilek. Untung gw sama mas dah sembuh.

Yah, begitulah cerita mudik kami. Ada senangnya, banyak sebelnya. Oya, tambahan informasi, baru tahun ini kami lakukan perjalanan begini karena sampai dengan tahun lalu, mertua masih tinggal di tebet! Dulu2 seneng banget kalo lebaran, tinggal ke tebet dan lenteng. Malah gw nyelametin orang2 yang pada hiruk pikuk mudik ke kampung. Aduuh... selamet deh, bermacet-macet, berpanas-panas. Ealaaahh....tahun ini kena tulahnya. Ternyata mudik itu beraaadddd sodara2. Berat di perjalanannya, berat di ongkos, berat efeknya. Tapi kok ya pada doyan? Gak ngerti tuh. Tahun depan? Blm tentu deh ngelakonin lagi. Kayaknya lbh praktis kl si mertua yang diboyong aja ke jakarta karena 4 dari 6 anaknya tinggal di jakarta (sebenernya 2 bulan lalu jg mrk baru nginep di rmh gw siy, trus minggu depan mo ke jakarta lagi). Dan sebenernya juga silaturahmi gak mesti pas lebaran kan ya? Bisa di lain waktu, malah mungkin jadi lebih afdol karena gak kena kemacetan panjang yang bikin dongkol, kebut2an sambil bersumpah serapah, yang efeknya mengikis keikhlasan, kesabaran dan makna lebaran itu sendiri. Betul gak? (Kalo gak setuju, jangan marah2 ke gw ya... inget, masih lebaran. Hihihihi....)