Tuesday, July 22, 2008

Balada si Pekerja

3 minggu bergelut dengan lalu lintas Jakarta waktu pagi dan sore hari, cukup banyak hal-hal yang sudah saya lihat dan rasakan. Sebenarnya bukan hal baru, tapi karena sudah cukup lama saya tidak berkeliaran di jalan-jalan Jakarta pada waktu jam-jam sibuk, maka saya seperti terbangun dari tidur panjang.


Busway

Dulu, waktu awal pembuatan busway, saya termasuk golongan orang yang kerap menyumpah serapahi kemacetan yang diakibatkan pekerjaan konstruksi itu. Saya pesimis sistem transportasi baru ini bisa mengurangi kemacetan jalan raya Jakarta. Tapi sekarang, sebagai salah satu pengguna regular, dengan rendah hati saya akui saya sudah salah mengira. Ternyata busway sangat membantu terutama bagi karyawan rendahan seperti saya ini, yang butuh cepat sampai di tujuan, ingin kenyamanan tapi tidak sanggup mengeluarkan uang banyak :D. Yang lebih menyenangkan lagi, mayoritas pengguna busway adalah karyawan yang akan berangkat ke dan pulang dari tempat kerja. Jadi notabene tidak ada bebauan aneh yang biasanya suka tercium kalau kita naik sarana transportasi umum lain seperti kereta api atau bis kota. Selain itu, jalur khususnya juga (agak) mempercepat perjalanan, jadi walaupun jarak yang ditempuh agak jauh, tapi masih bisa diperkirakan waktu tempuh yang akan dijalani sehingga tidak terlalu melelahkan walau harus berdiri sepanjang perjalanan. Berbeda dengan bis kota yang seringkali berjalan dengan kecepatan hanya 20 km/jam, berhenti seenaknya di sembarang tempat, sampai nge-tem semaunya (ngerti kan, apa itu nge-tem? Susah juga mau pakai istilah lain. Bahasa Inggris nge-tem itu apa ya? Hehehe…

Satu hal lagi yang membuat perjalanan naik busway makin menyenangkan. Sebagian (belum semua, sih) penumpangnya adalah orang-orang yang mengerti tata krama, dan mau memberikan tempat duduknya kalau ada orangtua, orang hamil, atau bahkan perempuan yang berdiri. Walau baru sebagian, tapi sudah cukup menyejukkan mata dan hati, terlebih kalau ingat bagaimana dulu saya yang ketika hamil 8 bulan dan terpaksa naik bis kota sama sekali tidak mendapat tawaran tempat duduk hingga harus berdiri sepanjang perjalanan padahal jalan macet dan udara sangat panas.

Makan siang

Dulu waktu di C’nS, rekan kerja sekantor lumayan banyak dan sebagian besar perempuan. Jadi kalau jam makan siang tiba, berbondong-bondonglah kami keluar ke kantin baseman atau (kalau mau irit) depan tempat parkir. Kalau udara sedang panas dan malas keluar, kami ramai-ramai memesan pada Herman the OB untuk dibelikan makanan, lalu makan bersama-sama diruang rapat. Acara makan siang itu cukup menyenangkan, saat-saat di mana personel semua bagian berkumpul dan bercanda tanpa ada sekat jabatan. Bahkan seringkali ibu direktur juga ikut makan dan bersenda gurau bersama kami.

Sekarang, di kantor baru ini, kami hanya bertiga (ditambah satu direktur eksekutif). Posisi AHA Centre sebagai divisi dari ASEAN seakan menciptakan tembok pemisah antara AHA Centre dan BAKORNAS PB yang gedungnya kami tempati ini. Sulit rasanya untuk menjalin keakraban dengan para karyawan BAKORNAS, walau kami sudah berusaha memperkenalkan diri. Saya awalnya kira itu bisa dilakukan ketika jam makan siang seperti di C’nS dulu. Tapi saya keliru, ternyata mereka mendapat jatah makan siang. Di minggu2 pertama, kami bertiga harus mencari-cari sendiri lokasi makan terdekat dengan kantor, karena tak satupun di antara kami yang mengenal daerah Harmoni ini. Akhirnya kami menemukan juga sebuah kantin sederhana tapi cukup baik tak jauh dari kantor. Di luar dugaan, ternyata harga makanan di sini cukup murah. Sepiring nasi dengan dua macam lauk (sayur dan lauk) hanya berharga 7500 rupiah saja! Bayangkan dengan makanan di kantor suami yang harganya tak kurang dari 10 ribu untuk nasi dan satu macam lauk. Rasanya pun tak kalah, cukup enak untuk skala kantin. Benar-benar pelipur lara.

Tapi selama ini, boss yang selalu dapat jatah kotak makan siang dari BAKORNAS rupanya tak enak hati melihat hanya kami bertiga yang harus membeli makanan dari luar. Beliau terus melobi pihak BAKORNAS dan di minggu ke-3, akhirnya kami juga mendapat jatah makan siang dari kantor. Alhamdulillah, tambah irit lagi deh jadinya. Dan tak perlu susah-susah jalan keluar untuk membeli makan siang (karena di sini tak ada OB yang bisa dimintai bantuan membelikan makanan).

The Policy Maker

Waktu pertama masuk C’nS dulu, namanya belum jadi C’nS, tapi masih sebagai majalah Contact (dan ternyata sampai sekarang pun nama ini masih tetap bergaung. Itulah hebatnya generasi jaman dulu, bisa menciptakan sesuatu yang terus dikenang orang walau bendanya sendiri sudah tidak beredar di pasaran). Hampir setahun di sana, majalah Contact berganti nama jadi majalah C’nS dengan konsep, isi dan wajah yang sama sekali baru juga. Sebagai salah satu editor waktu itu, saya turut membidani kelahiran C’nS itu. Saya ikut berdebat dengan teman-teman editor dan petinggi di PP LIA mengenai konsep majalah baru yang akan diluncurkan itu. Kami memilah-milah jenis artikel yang akan ditampilkan dan membahas macam tampilan yang akan kami tunjukkan. Pemilihan nama majalah juga dipikirkan masak-masak sebelum akhirnya direktur memutuskan memilih nama C’nS yang merupakan kepanjangan dari Cool ‘n Smart. In short, saya merasa sangat terlibat dalam semua proses peluncuran majalah itu.

Sekarang, saya seakan mengulangi sebagian besar proses itu. AHA Centre yang merupakan singkatan dari ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance in disaster management merupakan satu divisi baru yang untuk sementara ini berada di bawah divisi Disaster Management dari ASEAN. Sebagai divisi baru, boleh dibilang semua ketentuan, tugas dan tanggung jawab kami masih kabur, belum ditentukan dengan pasti. Akhirnya, tugas kamilah untuk menerjemahkan ASEAN Agreement (persetujuan Negara-negara anggota ASEAN) dan SASOP (Standard Arrangements dan Standard Operating Procedures) ke dalam sebuah Term of Reference atau juklak kerja kami. Di satu pihak, rasanya melelahkan juga karena kami harus melakukan semuanya sendiri (termasuk set up kantor dan memilah dokumen). Di pihak lain, saya senang juga karena ini berarti saya benar-benar belajar dari nol mengenai semua hal dalam AHA centre ini. Maklum, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja saya jauh sekali dari pekerjaan saya sekarang ini sehingga amat sangat banyak hal yang tidak saya mengerti. Terlebih, pekerjaan saya kali ini erat sekali kaitannya dengan birokrasi, satu hal yang sebelumnya saya agak-agak ‘alergi’. Ini semua memacu saya untuk terus belajar dan belajar, agar bisa menjawab semua tantangan yang muncul di hadapan saya. Tapi sebagaimana dulu saya optimis dalam mendalami pekerjaan sebagai jurnalis, sekarang juga saya optimis bisa menguasai, atau setidaknya memahami, sekelumit tentang disaster management ini. Karena, suka atau tidak, negara kita termasuk negara yang memiliki resiko cukup tinggi mengalami bencana berdasarkan letak geografisnya. Ini sudah terbukti dengan rangkaian bencana yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Jadi memang di masa depan nanti, akan sangat dibutuhkan banyak tenaga-tenaga ahli dalam bidang penanganan bencana. Dan itulah yang sekarang jadi tujuan saya (mungkin tidak akan sampai ke taraf ahli, tapi setidaknya mengerti mengenai permasalahan ini).

Tak terasa, sudah lumayan banyak juga saya menulis. Sudah dulu ah, lain kali disambung lagi yaaa…. Selamat bekerja :D

No comments: