Tuesday, December 09, 2008

Hiiiiiiii.... Ulat bulu

Hai all, gimana long week-endnya kemaren? D'you have a great time? Sebenernya week-end saya juga menyenangkan, sayangnya ditutup dengan kejadian yang menyebalkan. Badan sebelah kiri terutama seputaran tangan terasa nyeri dan kaku. Penyebabnya sih sepele, kena ulat bulu. Begini ceritanya....

Hari senin kemarin, setelah shalat Idul Adha, kami sekeluarga ke tempat pemotongan kambing gak jauh dari rumah nyokap. Kira-kira satu setengah jam kemudian, boyongan lagi ke rumah nyokap sambil ngebawa kambing yang udah disembelih, dikuliti dan siap dibagi-bagi. Sesampai di rumah nyokap, saya dan suami dibantu pembantu dan Reyhan (yang terakhir itu kayaknya banyakan ngegangguin sih, daripada ngebantu) memotong-motong dan memilah-milah daging kurban. Kenapa cuma kami ber-3? Karena adik dan ortu saya juga sibuk mengurus kambing kurban mereka.

Gak lama kemudian, semua selesai. Acara berikutnya, nyate dooonggg.... Saya beralih ke dapur, tempat adik ipar dan ibu saya menyiapkan sebagian daging tadi untuk disate dan disop. Adik saya beralih profesi jadi tukang sate dadakan. Walaupun amatiran dan bumbu hasil kira2, ternyata rasanya gak kalah sama tukang sate sungguhan. Yang pasti, potongan satenya guede-guede :D. Terus, dagingnya empuk. Nah, ini bisa karena dua hal. Pertama, kambingnya adalah kambing domba, bukan kambing jawa. Kenapa kami pilih kambing domba? Karena menurut pak Ustad, kalau kambing jawa baru cukup umur untuk disembelih kalau sudah berumur lebih dari 2 tahun. Sementara untuk kambing domba tidak ada persyaratan begitu. Jadi kami bisa memilih domba yang baru berumur setahun lebih dan tentunya dagingnya lebih empuk karena umurnya lebih muda. Atau memang daging kambing domba lebih empuk dari daging kambing jawa? Itu kemungkinan kedua :D.

Puas makan sate dan sop, kami sekeluarga pulang. Oya, mobil saya diparkir di bawah pohon mangga (yg blm terlalu besar jadi rantingnya masih rendah) di depan rumah orangtua saya. Ketika mobil mulai berjalan, sebagian ranting itu terdengar menyapu atap mobil. Dan pulanglah kami ke rumah dengan cerita. Little did I know that I would be in so much pain a short while later.

Sesampai di rumah, saya keluar dari mobil sembari menggendong Izza yang tertidur sepanjang perjalanan. Tak sengaja, saya berpegangan ke bagian atas pintu mobil. Tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang tajam di sela-sela jari tengah dan jari manis. Otomatis pegangan terlepas, tapi rasa sakitnya tak hilang, malah makin menjadi. Awalnya saya kira ada potongan ranting yang agak tajam. Tapi ketika saya perhatikan benda yang saya sentuh itu, Astagfirullah.... ulat bulu penuh duri warna hijau sebesar kurang lebih jempol orang dewasa. Saya langsung menjerit karena geli (bukan geli lucu, lho. Geli jijay gitu deh) bercampur kesakitan yang makin menjadi di tangan kanan saya. Izza sampai terbangun karena kehebohan itu. Saya langsung berlari masuk pagar (yang sudah dibukakan pembantu) dan membuka keran air di garasi untuk mencuci tangan dari bekas ulat bulu itu. Ajegile, sakitnya bukan menghilang malah terasa merambat ke bagian atas tangan saya, ke pergelangan sampai terus ke lengan.

Suami yang melihat saya kesakitan sampai mengeluarkan air mata lalu menyuruh pembantu mengambilkan minyak tawon untuk diolesi ke jari-jari. Nggak mempan juga. Pembantu lalu mengambilkan minyak cap kampak dan meneteskan ke tangan saya. Masih juga nggak mempan. Ya Allah.... seumur hidup belum pernah saya merasakan sakit seperti itu. Rasanya seperti ada ribuan jarum panas menusuk2 tangan saya dari dalam dan menjalar sepanjang tangan itu.

Saya lalu menelepon ibu saya, menceritakan kesialan yang saya alami. Ibu saya segera menganjurkan untuk menggosoknya dengan kapur sirih (kapur yang biasa dipakai untuk menyirih atau membuat kripik kentang) dan parutan kunyit. Syukur alhamdulillah saya punya kapur, karena waktu itu saya ingin membuat kripik kentang tapi sampai sekarang belum sempat. Saya minta suami parutkan kunyit dan mencampurnya dengan bubuk kapur, lalu menggosoknya ke jari2 yang sudah agak membengkak, merah dan kaku. Alhamdulillah, yang ini berhasil. Rasa sakitnya mulai berkurang.

Dengan satu tangan, saya lalu mandi. Setelah itu, sambil tetap merasakan nyeri di tangan plus kecapean setelah berkegiatan seharian, saya tiduran di tempat tidur. Walaupun berkurang, tapi bagian dalam tangan kanan saya masih terasa sakit, malah seakan menjalar sampai ke bahu. Dan setelah saya rasakan, di jantung sebelah kanan pun saya merasakan sakit yang sama dengan di tangan. Jadi aneh rasanya, jantung bagian kiri normal2 saja, sementara jantung bagian kanan seperti ditusuk-tusuk jarum panas. Luas biasa efek racun ulat bulu itu, sampai menjangkau ke jantung! Saya saya kalau yang terkena adalah orang yang jantungnya lemah atau sudah berusia lanjut, efek yang dialami bisa-bisa fatal dan membahayakan jiwa.

Akhirnya saya bisa juga tertidur. Kira2 satu jam kemudian saya terbangun dengan tangan kanan yang masih kaku. Kalau dipegang, rasanya lebih panas dari tangan kiri dan terlihat agak bengkak. Tak lama kemudian, ibu saya menelepon, menanyakan kondisi saya. Saya ceritakan semua. Lalu ibu saya menyuruh saya minum susu dan minum 2 sendok minyak zaitun. Katanya itu bisa menawar racun. Alhamdulillah lagi, kebetulan saya masih punya persediaan minyak zaitun. Segera saya turuti saran ibu saya itu.

Di dapur, saya ceritakan tentang sakit di jantung itu pada pembantu saya. Di luar dugaan, dia membenarkan hal itu. Katanya, di kampungnya dia dulu sering terkena ulat bulu hijau itu (dia memang agak tomboy. Hobinya manjat2 pohon). Rasanya memang sakit luar biasa dan terasa sampai ke jantung. Huaaa... jadi semua kondisi yang saya rasakan itu bukan rekayasa dong, memang dahsyat juga racun ulat bulu itu. Trus saya tanya, kalau di kampung, apa penawar sakitnya? Dia bilang, biasanya (maaf) tai ulat bulu itu. Jadi ulat bulunya digencet, lalu cairan dari dalam badannya itu (bisa bayangin kan, cairan apa?) dioleskan ke bagian yang terkena. Hiiii.... Nggak kebayang deh kayak begitu. Takutnya, bukannya sembuh tapi malah terkena bulunya lagi. Lagipula, ulat sialan itu sudah dimatikan dan disingkirkan jauh2 oleh suami karena takut mencelakakan yang lain.

Sepanjang malam, urat2 tangan kanan saya tampak nyata terlihat dan tangan terasa kaku sekali. Tapi untungnya jantung sudah terasa normal. Awalnya saya pikir kalau kondisinya masih seperti itu sampai pagi, saya akan ijin tidak masuk kantor saja. Ternyata pagi hari kondisinya sudah membaik. Tangan saya sudah tidak terlalu kaku, hanya terasa agak nyeri.

Tak terbayang seperti apa jadinya kalau anak-anak saya atau Bu De yang sudah sepuh itu yang terkena si ulat bulu hijau. Bisa-bisa kiamat deh. Anak2 tentu tak akan sanggup menahan sakit seperti itu. Dan Bu De, bisa-bisa langsung anfal jantungnya. But it's really amazing that something that small could cause that much pain. Subhanallah. Bukannya saya tidak pernah melihat ulat bulu, tapi yang biasa saya temui adalah yang berwarna coklat atau hitam. Berdasarkan pengalaman, jenis itu hanya menyebabkan gatal2 dan bengkak pada bagian tubuh yang terkena. Biasanya bisa disembuhkan dengan dioleskan minyak tawon. Kalau yang punya efek ke dalam darah seperti ini, baru kali ini saya temui.

So, ada beberapa hal yang bisa saya jadikan pelajaran dari kejadian kemarin itu:
1. Kalau keluar dari mobil, jadi berpegangan/menyentuh bagian atas mobil, terutama atapnya. Kadang kita suka lupa bahwa selama dalam perjalanan/ketika kita di dalam mobil, who knows apa saja yang menempel atau terjatuh ke atas mobil kita? Jadi untuk amannya, stay away from the car rooftop.
2. Kalau terkena ulat bulu, cepat2 cuci tangan di air mengalir. Nah, berdasarkan pengalaman kemarin itu, rasa sakitnya berkurang setelah saya gosok bubuk kapur plus parutan kunyit (menurut ibu saya, digosok itu adalah untuk melepaskan bulu2 ulat yg menempel di tangan saya. Entah benar, entah tidak, karena saya tidak melihat ada bulunya yang menempel). Tapi saya kurang pasti juga apa campuran itu penawarnya atau kombinasi dari minyak tawon, minyak kampak dan campuran kapur-kunyit. Untuk amannya, coba saja semua :D
3. Jangan lupa minum susu untuk menawarkan bisa/racun. Susu juga bisa dijadikan penawar untuk bisa ular (saya pernah baca di salah satu novel ilmiah). Ibu saya menganjurkan minum minyak zaitun juga, tapi terus terang saya belum pernah mendengar tentang minyak zaitun berfungsi sebagai penawar racun dan belum pernah membaca literatur tentang ini jadi saya tidak tahu kebenarannya.

Yah, sekian sharing dari saya. Semoga berguna kalau2 ada yang mengalami kejadian seperti saya (Naudzubillah min dzalik, jangan sampe deh ya). Post ini saya buat sambil agak meringis menahan nyeri di tangan kanan karena sakitnya terasa dari ujung jari sampai bahu. Edun kan?

1 comment:

Tembalang Online said...

asslamualaikum..
Betul bu, ulat bulu racunnya luar biasa gatal.
Siang tadi saya terkena..
Saya baca di internet pakai kunyit digosok/dioles.
Alhamdulillah langsung membaik.
Terima kasih pula atas pengalamannya..
Wasalam