Friday, September 29, 2006

Kakekku sudah tiada.....

Hari ini genap seminggu berpulangnya kakek ke Rahmatullah. Syukur alhamdulillah beliau dipanggil kembali menghadap kehadiratNya dihari yang mulia ini, hari jum’at, karena menurut hadis Rasulullah, salah satu tanda-tanda khusnul khatimah adalah meninggal di hari jum’at. Wallahu’alam bissawab.

Kakek adalah salah seorang yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Aku adalah cucu perempuan pertamanya dan yang paling lama tinggal bersama mereka. Aku dan keluargaku tinggal dirumah kakek sampai usiaku 6,5 tahun. Setelah kami pindah pun kakek seringkali datang dan menginap dirumah kami, terutama kalau ayah dinas keluar negeri barang sehari-dua. Kakek akan datang sore hari, menginap, lalu pulang keesokan paginya untuk datang lagi disore hari. Begitu terus sampai ayah pulang dari dinasnya.

Banyak sekali kenanganku tentang kakek, mungkin yang terbanyak diantara semua cucunya yang berjumlah 18 orang. Satu hal yang paling istimewa buatku dan kakek adalah ketika aku baru berumur beberapa bulan. Kakek mengajakku keluar rumah di pagi2 buta menemani ayah yang akan keluar kota untuk mencari taksi yang akan membawa ayah ke bandara. Karena rumah kakek didalam gang, maka agak jauh juga jarak yang kami tempuh ke dan dari rumah ke jalan. Setelah ayah berangkat dengan taksinya, kakek dan aku yang waktu itu digendong diatas pundaknya kembali kerumah. Setelah sampai dirumah barulah kakek sadar bahwa ternyata aku sudah membiru kedinginan. Kenangan itu tampaknya sangat berkesan untuk kakek karena cerita ini selalu diceritakan ulang setiap kali aku berulang tahun. Bahkan dihari pertunangan dan setelah aku menikah.

Kakek adalah seorang yang sangat keras terhadap anak2nya, tapi lembut terhadap cucu2nya. Ibu selalu bercerita bahwa kakek sangat tidak suka bakso. Jadi jika anak2nya membeli bakso, mereka harus melakukannya dengan sembunyi2 karena penciumannya sangat tajam. Suatu hari, ibu yang waktu itu sudah bekerja, membeli bakso secara diam2. Ketika baru akan menyantapnya, kakek masuk kerumah dan mencium aroma bakso itu. Serentak, ia membuangnya. Alangkah kesalnya ibu, terutama karena uang yang dipakai untuk membeli bakso itu bukanlah uang jajan pemberian kakek melainkan hasil jerih payahnya sendiri bekerja. Namun, setelah ada kami cucunya, pernah suatu hari aku sedang tidak enak badan dan tidak mau makan apapun. Kakek yang tahu bahwa aku juga sangat suka bakso akhirnya menyuruh ibuku untuk membelikan bakso untukku! Kata ibu, “Tuh kan, lihat gimana sayangnya kakek sama cucu. Anaknya yang beli bakso dengan uang sendiri dibuang, tapi cucunya malah disuruh belikan.”

Kakek juga sangat pandai mendongeng. Waktu aku kecil dulu, jika kami para cucunya berkumpul, kami selalu meminta kakek untuk bercerita. Ada beberapa cerita yang sering diulangnya, tapi kami tidak pernah bosan mendengarnya. Ada juga sebuah cerita yang sedih, tentang dua orang kakak beradik yang terpisah karena perang. Tapi aku hanya tahu bagian awalnya, karena biasanya setelah sekitar sepertiga cerita aku lalu menangis keras2 karena kasihan dengan mendengar kisah 2 bersaudara itu. Biasanya ibuku lalu datang, memarahi kakek karena telah membuatku menangis, dan membawaku menyingkir dari situ, sementara saudara-saudaraku yang lain tetap mendengarkan cerita itu sampai habis. Sampai hari ini aku tidak pernah tahu akhir dari cerita sedih itu.

Kakek juga orang pertama yang mengajarku mengaji. Setiap habis shalat magrib berjama’ah, kami lalu antri untuk belajar mengaji. Dimulai dari aku, lalu adik2ku. Ketika mengaji itu, kami harus membacanya sekeras mungkin, sehingga kegiatan ini membuatku sebal karena setelah itu suaraku menjadi serak. Ternyata, menurut ibuku di belakangan hari, hal ini disebabkan kakek merasa bangga bahwa cucunya bisa mengaji, dan untuk memberi contoh pada anak2 tetangga sekitar agar membaca Al-qur’an setiap hari. Walaupun kesal, tapi aku dengan patuh melakukannya setiap hari. Dan ternyata hasilnya terasa setelah aku mulai sekolah. Aku termasuk yang paling lancar dalam membaca Al-qur’an disekolah.

Setelah kami pindah, kegiatan mengaji selepas magrib ini terus kami lakukan, ada atau tidak ada kakek. Tapi ada acara tambahan kalau kakek menginap. Setiap kali datang, kakek pasti membawa nasi timbal atau nasi bungkus daun pisang yang disiapkan oleh emmi, nenekku. Lauknya hanyalah telor ceplok balado, tapi rasanya nikmat sekali dimakan bersama-sama. Jadi setelah mengaji, kakek menggelar bekal nasinya itu dilantai, ditambah lauk sayur yang dimasak ibuku (biasanya sayur daun pisang atau sayur toge-tahu) dan segelas besar teh manis panas, lalu kami semua menyerbu hidangan itu. Karena kakek penyuka sambal, maka baladonya pedas sekali. Tapi kami senang2 saja memakannya, terutama adikku yang nomor satu, yang sekarang sudah tiada, yang juga doyan sambal. Nikmat sekali rasanya makan bersama-sama seperti itu.

Malamnya, sebelum tidur, kami akan bersama-sama mendengarkan siaran radio. Karena dulu dirumahku belum ada aliran listrik, maka hiburan satu-satunya adalah radio kecil itu. Ada sebuah stasiun radio yang sering menayangkan sandiwara radio betawi yang ceritanya selalu kocak. Kami semua akan terkekeh mendengar ceritanya, terutama kakek.

Nenekku seringkali berkata bahwa kakek menyayangiku dan saudara2ku lebih dari sepupuku yang lain. Hal ini mungkin ada benarnya, karena kami memang yang terlama tinggal bersama mereka. Tapi hal itu juga mungkin disebabkan karena kami adalah yang paling sering datang dan menginap ditempat mereka, bahkan setelah aku dan adikku kuliah. Setelah aku menikah pun, kami selalu menyempatkan diri untuk datang kerumah kakek. Bahkan ketika aku melahirkan Reyhan anakku yang sulung, kakek dan emmi ikut menjemput kerumah sakit dan mengantar kami pulang kerumah.

Tak habis-habis rasanya cerita dan kenangan tentang kakek. Sekarang, setelah mereka berdua tiada (emmi meninggal tahun lalu, 3 hari sebelum hari lebaran), terasa sekali rasa kehilangan yang kurasakan. Tidak akan ada lagi acara kumpul lebaran bersama dirumah kakek. Namun demikian, kepulangan kakek itu juga menimbulkan perasaan lega, karena telah membebaskannya dari penderitaannya akibat sakit selama beberapa tahun belakangan ini. Selamat jalan kakek, semoga kakek mendapat tempat terbaik disisi Allah, diampuni semua dosa kakek dan dimuliakan oleh Nya. Insya Allah suatu hari nanti kami akan menyusul dan kita bisa bertemu lagi ditempat yang kekal. Amiiinnn…

2 comments:

Bunda Faikar said...

turut berduka cita ya buk, semoga kakek dapat tempat yg baik disisi ALLAH swt.
aku belum coba resepnya nehh. lagi nyari nyari mentega putih mana tau ada gitu ...

Lisna Dwi Ardhini said...

Turut berduka cita yah mba...Maap niy baru mampir lagi.Aku jadi inget Engkong akuh,hiks....